Film Dokumenter Deforestasi Papua "Pesta Babi" Ramai Dibicarakan, Tentang Apa dan Nonton di Mana?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Film dokumenter berjudul Pesta Babi tengah menjadi sorotan setelah mengangkat isu sensitif terkait deforestasi besar-besaran di Papua Selatan. Karya ini disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan diproduseri oleh jurnalis Papua, Victor Mambor.
Dalam sejumlah wawancara internasional, Dandhy menegaskan bahwa film ini dibuat sebagai bentuk peringatan kepada publik global. Ia menilai apa yang terjadi di Papua bukan sekadar isu lokal, melainkan persoalan besar yang perlu mendapat perhatian dunia.
Dokumenter ini mengulas pembukaan lahan dalam skala masif di wilayah Papua Selatan, khususnya di Merauke. Proyek tersebut mencakup sekitar 2,5 juta hektare lahan yang dialokasikan untuk pengembangan tebu dan padi sebagai bagian dari program pangan dan bioenergi, ditambah dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Melalui sudut pandang masyarakat lokal, film ini menyoroti perubahan drastis pada lingkungan hidup, mulai dari hilangnya hutan hujan dan ekosistem rawa, hingga dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat adat. Selain itu, film ini juga membahas keterlibatan aparat militer dalam pengamanan proyek strategis tersebut.
Menurut Victor Mambor, masih banyak masyarakat internasional yang belum memahami kompleksitas persoalan di Papua. Selama ini, perhatian dunia lebih banyak tertuju pada konflik bersenjata, sementara dinamika lain seperti ekspansi industri dan dampaknya terhadap warga lokal kerap luput dari sorotan.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto disebut terus mendorong percepatan proyek agribisnis ini. Dukungan terhadap kehadiran militer dinilai penting untuk menjaga stabilitas dan keberlangsungan proyek yang dianggap strategis bagi ketahanan pangan dan energi nasional.
Namun, kritik juga muncul terkait potensi meningkatnya konflik sosial seiring bertambahnya kehadiran aparat di wilayah tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu fokus utama yang diangkat dalam film.
Selain aspek sosial dan politik, Pesta Babi juga menyoroti dampak lingkungan dalam skala global. Papua dikenal sebagai salah satu kawasan dengan hutan hujan tropis terbesar yang masih tersisa. Pembukaan lahan besar-besaran berpotensi meningkatkan emisi karbon secara signifikan, sekaligus mengancam keanekaragaman hayati.
Film ini telah diputar di sejumlah lokasi, termasuk Jayapura, dan kini tengah dipromosikan di kancah internasional. Dalam waktu dekat, penayangan juga dijadwalkan berlangsung di Selandia Baru serta kota-kota besar di Australia seperti Sydney dan Melbourne.
Dengan isu yang diangkat dan jangkauan distribusinya, dokumenter ini menjadi salah satu karya yang memicu diskusi luas mengenai masa depan Papua, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun kebijakan pembangunan.