Ternyata Segini Harga Minyak Mendidih! Siapa Paling Diuntungkan?

Genvoice.id | 04 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Harga minyak mentah dunia kembali memanas dan langsung memantik euforia di saham-saham migas domestik. Pada Senin malam (2/3/2026), minyak Brent melonjak 7% ke level US$77,9 per barel, sementara WTI melesat 6,3% ke US$71,23 per barel. Level ini menjadi yang tertinggi sejak Juni tahun lalu, dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Lonjakan harga terjadi setelah rangkaian serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memperkeruh situasi kawasan. Ketegangan makin meningkat usai fasilitas kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco menghentikan sementara operasional untuk evaluasi pascaserangan drone. Di tengah situasi ini, sejumlah perusahaan pelayaran bahkan mulai mengalihkan rute sebagai langkah antisipasi risiko keamanan.

Meski kelompok produsen OPEC+ sepakat menaikkan produksi 206 ribu barel per hari mulai April, tambahan pasokan tersebut dinilai masih terbatas dibanding rencana awal. Artinya, tekanan kenaikan harga masih terbuka selama ketidakpastian geopolitik belum mereda.

Kondisi ini membuat saham-saham energi di Bursa Efek Indonesia langsung menjadi buruan.

Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatat lonjakan lebih dari 15% dalam sehari ke Rp1.995 per saham, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sejak awal tahun, saham ini telah menguat lebih dari 37%. Selain terdorong sentimen harga minyak, MEDC juga memiliki sekitar 20% kepemilikan di PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang diproyeksikan mulai membukukan laba pada 2026.

Sementara itu, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) tak kalah perkasa. Dalam sehari, ELSA melonjak lebih dari 17% ke level Rp1.000 per lembar, tertinggi sejak IPO. Berbeda dengan emiten hulu murni, model bisnis ELSA lebih berfokus pada jasa penunjang seperti drilling dan layanan produksi. Sekitar 70% pendapatannya berasal dari kontrak dengan Pertamina Patra Niaga, sehingga relatif stabil meski harga minyak berfluktuasi.

Yang paling agresif adalah saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Saham ini terbang 25% dalam sehari hingga menyentuh Auto Reject Atas di Rp2.200 per lembar. ENRG memiliki sejumlah katalis produksi, termasuk potensi peningkatan output dari Blok Bentu dan perkembangan positif di aset Sengkang.

Secara kinerja, ENRG mencatat penjualan bersih US$498,13 juta sepanjang 2025, naik 6,57% secara tahunan. Laba bersihnya bahkan tumbuh lebih tinggi, 21,41% menjadi US$91,53 juta. Total aset perusahaan per akhir 2025 mencapai US$1,82 miliar, dengan pertumbuhan ekuitas yang lebih tinggi dibanding kenaikan liabilitas-sebuah sinyal penguatan struktur permodalan.

Di tengah harga minyak yang masih panas dan risiko geopolitik yang belum mereda, saham-saham migas berpotensi tetap atraktif. Namun investor tetap perlu mencermati dinamika global, keputusan produksi OPEC+, serta perkembangan konflik Timur Tengah yang bisa sewaktu-waktu mengubah arah pasar.