Puasa di Kota yang Tak Pernah Tidur! Begini Cerita WNI Jalani Ramadhan di New York Saat Musim Dingin

Genvoice.id | 04 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kota New York City yang dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur ternyata menyimpan cerita tersendiri bagi komunitas Muslim yang menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Di tengah gedung pencakar langit dan ritme hidup yang serba cepat, suasana bulan suci tetap terasa, meski dengan tantangan berbeda dari Indonesia.

Nubly Kautsar (44), warga Indonesia yang hampir lima tahun bekerja di New York, mengungkapkan pengalamannya menjalani Ramadhan di negeri empat musim itu. Tahun ini, Ramadhan bertepatan dengan musim dingin. Fajar terbit sekitar pukul 05.17 dan matahari terbenam pukul 17.44 waktu setempat, sehingga durasi puasa hanya sekitar 12 jam, lebih singkat dibandingkan di Jakarta.

Menurut Billy, sapaan akrabnya, tantangan utama bukan pada lamanya puasa, melainkan adaptasi terhadap cuaca. "Pengalamannya lebih menantang karena terkadang kendala cuaca dari musim yang berbeda dengan Indonesia. Tetapi lebih menyenangkan karena tidak mudah haus atau lapar saat musim dingin seperti sekarang," ujarnya kepada ANTARA saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Meski waktu puasa relatif lebih singkat, mencari takjil di kota metropolitan tersebut tidak semudah di Indonesia. Tidak ada jajanan pinggir jalan yang menjajakan kolak atau gorengan menjelang magrib. Karena itu, banyak warga Indonesia memilih menyiapkan takjil sendiri di rumah demi menghadirkan nuansa Ramadhan khas Tanah Air.

Alternatif lain adalah berbuka puasa di Masjid Al-Hikmah, masjid komunitas Indonesia yang menyediakan takjil gratis setiap hari. Billy kerap berbuka di sana karena lokasinya hanya satu blok atau sekitar lima menit berjalan kaki dari rumahnya. Selain merasakan kebersamaan, ia juga bisa menikmati hidangan khas Indonesia yang mengobati rindu kampung halaman.

Di masjid tersebut, shalat tarawih dilaksanakan berjamaah. Namun, pilihan tidak terbatas pada satu tempat saja. New York memiliki banyak masjid yang tersebar di berbagai wilayah, memudahkan umat Muslim menjalankan ibadah malam selama Ramadhan. "Salat tarawih kita lakukan berjamaah, karena memang New York sudah banyak masjid jadi kita bisa lakukan di masjid mana saja di sekitar area New York," kata Billy.

Ramadhan di kota itu juga terasa hangat karena keberagaman komunitas Muslimnya. Tidak hanya warga Indonesia, tetapi juga Muslim dari negara-negara Arab, Pakistan, Bangladesh, hingga warga asli Amerika dan komunitas Hispanik. Buka puasa bersama lintas negara menjadi pemandangan yang lazim dan memperkaya pengalaman spiritual di perantauan.

Menariknya, Ramadhan 2026 memberi rasa percaya diri lebih bagi komunitas Muslim setempat. Billy menyebut, sejak New York dipimpin oleh wali kota Muslim, Zohran Mamdani, umat Islam merasa lebih nyaman menunjukkan identitas mereka tanpa rasa khawatir berlebihan terhadap diskriminasi.

"Semenjak mayor dipimpin seorang Muslim kita agak percaya diri menunjukkan kalau kita Muslim, dan kita tidak terlalu takut ada diskriminasi terkait Islamophobia," ujarnya.

Di tengah udara dingin dan hiruk-pikuk kota global, Ramadhan di New York tetap menghadirkan kehangatan tersendiri. Bukan hanya soal durasi puasa, tetapi tentang kebersamaan, keberagaman, dan rasa percaya diri sebagai Muslim di tanah rantau.