Emosi Mudah Meledak Saat Puasa? Psikolog Ini Ingatkan Orang Tua Kenali HALT Sebelum Marah ke Anak

Genvoice.id | 04 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Menjalani puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi. Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa, Nena Mawar Sari, membagikan tips agar orang tua tetap tenang saat menghadapi anak di bulan Ramadhan.

Menurut Nena, kondisi fisik yang menurun saat puasa bisa membuat emosi lebih mudah terpancing. Gula darah yang turun, tubuh yang lemas, ditambah tanggung jawab rumah tangga seperti memasak dan mengurus anak, sering kali menjadi pemicu ledakan emosi.

Ia menjelaskan bahwa ada konsep sederhana yang bisa membantu orang tua mengenali pemicu emosi, yakni HALT, singkatan dari Hungry (lapar), Angry (marah), Lonely (kesepian), dan Tired (lelah). Keempat kondisi ini kerap muncul bersamaan saat puasa dan membuat seseorang lebih reaktif.

"Biasanya dalam kondisi lapar, marah, kesepian kemudian kita merasa capek, emosi kita jadi mudah terpancing. Nah caranya adalah dengan berjeda dan tetap menyadari emosi kita itu bentuknya yang mana," ujar Nena saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Dengan menyadari kondisi diri sendiri, orang tua bisa mengambil jeda sebelum bereaksi. Jeda sederhana ini penting untuk mencegah tindakan impulsif yang berpotensi disesali kemudian.

Ia menekankan bahwa tidak masalah bagi orang tua untuk jujur pada anak mengenai kondisi emosinya. Misalnya dengan mengatakan sedang lelah dan meminta waktu untuk berbicara nanti setelah beristirahat. Cara ini justru menjadi contoh regulasi emosi yang sehat bagi anak.

"Jadi nggak apa-apa untuk mengatakan mama sedang capek, bisa nggak kita ngobrolnya nanti. Sehingga kita bisa menghindari tindakan impulsif," jelasnya.

Selain kesadaran diri, Nena juga menyoroti pentingnya dukungan emosional di dalam keluarga. Orang tua tidak perlu memikul semua beban sendirian. Komunikasi dengan pasangan untuk membagi peran menjadi kunci agar tekanan tidak menumpuk pada satu pihak saja.

Menurutnya, setiap anggota keluarga sebaiknya memiliki peran yang setara sesuai kapasitas masing-masing. Dengan kerja sama yang baik, suasana rumah selama Ramadhan bisa tetap hangat dan kondusif.

Pada akhirnya, puasa bukan hanya latihan menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga latihan mengelola emosi. Dengan mengenali HALT dan memberi jeda sebelum bereaksi, orang tua dapat menjaga hubungan dengan anak tetap harmonis sepanjang bulan suci.