Sadis! Warga Langkat Bertahan di Posko Buatan Sendiri, Ungkap dalam Waktu Seminggu Tak Ada Bantuan Pemerintah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Basri sudah seminggu hidup dalam genangan air setinggi hampir dua meter di Desa Pematang Cengal, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat.
Namun, sampai hari Rabu, bantuan dari pemerintah tak juga datang. Bersama warga lain, Basri akhirnya memilih mengungsi ke Jembatan Cengal dan membangun posko mandiri dengan gotong royong.
"Belum ada bantuan pemerintah ke sana. Kami kekurangan makanan, air bersih, dan listrik. Sudah dari tanggal 28 banjir. Ada pun yang tak makan di sana," kata Basri saat ditemui di Jalan T Amir Hamzah.
Hari itu Basri tampak mendorong sepeda motornya bersama sang istri. Motor itu diangkat ke rakit dari jembatan karena air masih tinggi, lalu dibawa ke kantor desa sebelum ia dorong pelan-pelan hingga ke jalur yang aman. Sesampainya di jalan besar, ia mengangkat bagian depan motor untuk mengeluarkan air dari knalpot, berharap mesinnya masih bisa hidup. Untungnya, motor itu kembali menyala.
Tujuannya sederhana: mencari bahan makanan. Stok di posko mandiri sudah menipis. Karena itu pula Basri menolak mengungsi lebih jauh.
"Ngapain ngungsi ke daerah sini. Di sini pun poskonya pribadi. Tak ada yang dari pemerintah. Makanya kami bertahan di sana," ujarnya.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Langkat sudah melanda tujuh kecamatan. BPBD Sumut mencatat 11 warga meninggal dunia dan lebih dari 500 ribu jiwa terdampak. Banjir bandang yang terjadi sejak 26 November dipicu intensitas hujan yang sangat tinggi.
Pemerintah kabupaten dan BPBD kini terus berkoordinasi untuk memetakan wilayah terdampak dan mempercepat penanganan, namun di lapangan, warga seperti Basri masih berjuang sendiri. Bagi mereka, posko darurat buatan warga adalah satu-satunya tempat bertahan di tengah lambatnya bantuan resmi.