Evakuasi Ponpes Ambruk di Sidoarjo Gunakan Alat Berat! Keluarga Korban Sepakat Setelah Tanda Kehidupan Nihil

Genvoice.id | 03 Nov 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menggunakan alat berat dalam proses evakuasi korban ambruknya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur.

Keputusan ini diambil setelah berbagai pihak, termasuk keluarga korban, sepakat bahwa langkah ini adalah opsi terbaik menyusul tidak ditemukannya lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan.

Dilansir dari Antara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyampaikan bahwa keputusan ini dibuat setelah dilakukan diskusi intensif dengan keluarga para korban. Menurutnya, pihak keluarga telah memahami situasi di lapangan dan secara resmi menyetujui penggunaan alat berat dengan menandatangani dokumen persetujuan proses evakuasi.

"Hal ini dilakukan setelah seluruh pihak terkait berdiskusi dengan keluarga korban. Keluarga juga setuju untuk penggunaan alat berat," ujar Pratikno.

Sebelum keputusan tersebut diambil, Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, menjelaskan bahwa tim telah melakukan tiga kali asesmen di lapangan sejak Rabu malam hingga Kamis pagi. Asesmen tersebut dilakukan menggunakan alat pendeteksi tanda-tanda kehidupan pada pukul 23.00 WIB, 02.00 WIB, dan terakhir pukul 07.00 WIB, namun hasilnya menunjukkan nihil tanda kehidupan.

"Dari proses asesmen menggunakan berbagai alat-alat mutakhir, Basarnas menyimpulkan bahwa sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan dari korban," ungkap Freezer.

Dengan keputusan tersebut, proses evakuasi kini memasuki tahap pemulihan (recovery). Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan pihaknya telah menurunkan 219 petugas terlatih, lima derek (crane), 30 ambulans, 300 kantong jenazah, serta 30 truk sampah untuk mendukung kelancaran evakuasi.

Ia juga memastikan bahwa jika ada keluarga korban yang mengalami kesulitan dalam proses pemakaman, terutama bagi jenazah yang akan dibawa ke luar daerah Sidoarjo, pemerintah siap membantu sepenuhnya.

Dalam pelaksanaan evakuasi, Freezer menambahkan bahwa seluruh proses pengangkatan puing menggunakan derek akan dilakukan secara bertahap dan sangat hati-hati. Setiap kali pengangkatan dilakukan, tim akan kembali melakukan asesmen ulang demi menjamin keamanan semua pihak di lapangan.

Selain itu, evakuasi hanya dilakukan pada siang hari, mempertimbangkan keterbatasan pencahayaan dan visibilitas di malam hari. Faktor keselamatan para petugas menjadi prioritas utama dalam proses yang penuh risiko ini.

Sebelumnya, insiden tragis ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny terjadi pada Senin, 29 September 2025. Data sementara dari Basarnas menunjukkan total 108 orang menjadi korban, dengan 103 selamat dan dirawat, serta lima dinyatakan meninggal dunia. Kini, dengan masuknya tahapan evakuasi menggunakan alat berat, harapan keluarga korban untuk segera menemukan kejelasan nasib orang-orang tercinta mereka mulai terbuka.