512 Santri Keracunan Usai Santap MBG, BGN Bekukan SPPG Sidoarjo Selama 30 Hari
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebanyak 512 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para santri yang terdampak kemudian dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Insiden tersebut membuat Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke para santri. Operasional SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah dibekukan selama 30 hari sebagai bagian dari sanksi atas kejadian tersebut.
BGN Bekukan SPPG Selama 30 Hari
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, mengatakan keselamatan dan kondisi kesehatan para korban menjadi prioritas utama setelah kejadian keracunan massal tersebut. BGN juga memastikan penanganan terhadap ratusan santri terus dikoordinasikan bersama pemerintah daerah dan pihak pesantren.
"Kami juga suspend berat selama 30 hari SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Selain itu, kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan," ujar Ketut dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis (3/9/2026).
Selain membekukan operasional, BGN mengusulkan pergantian kepala SPPG yang bertanggung jawab terhadap fasilitas tersebut. Langkah itu menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh untuk memastikan penyedia makanan dalam program MBG memenuhi standar keamanan dan kelayakan yang ditetapkan.
"Selanjutnya pada saat ini kita akan fokus dengan melakukan penyelamatan bagaimana kesehatan dari anak-anak kita ini ke beberapa rumah sakit. Ini yang kita utamakan," lanjut Ketut.
SPPG Sidoarjo Layani Ribuan Pelajar
SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah memiliki cakupan distribusi yang cukup besar dalam pelaksanaan program MBG. Fasilitas tersebut diketahui memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan setiap hari untuk didistribusikan ke 19 institusi pendidikan.
Wakil Koordinator BGN Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan Ponpes Manbaul Hikam menjadi salah satu penerima dengan jumlah alokasi terbesar. Setiap harinya, sekitar 1.000 porsi makanan dari SPPG tersebut dikirimkan ke pondok pesantren yang kini menjadi lokasi munculnya kasus keracunan.
"Ada 19 sekolah. Jadi di pondok itu ada dua sekolah berasrama, terus sisanya ada sekolah-sekolah lain, TK, swasta semua. Kalau di pondok itu ada 1.000. Jadi total di SPPG ini ada 2.800-an," ujar Teguh.
Besarnya jumlah makanan yang diproduksi membuat evaluasi terhadap fasilitas tersebut menjadi perhatian penting bagi BGN. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui rangkaian proses penyediaan makanan, mulai dari pengolahan hingga distribusi kepada para penerima manfaat.
Pemkab Sidoarjo Temukan 31 SPPG Belum Berizin
Kasus keracunan tersebut juga mendorong Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melakukan evaluasi terhadap seluruh SPPG yang beroperasi di wilayahnya. Dari sekitar 170 SPPG yang diperiksa, pemerintah daerah menemukan masih terdapat 31 fasilitas yang belum memiliki perizinan lengkap.
Bupati Sidoarjo Subandi kemudian meminta seluruh SPPG yang izinnya belum selesai untuk menghentikan kegiatan produksi. Menurutnya, operasional tidak boleh dilakukan sebelum seluruh persyaratan perizinan dipenuhi.
"Itu izin kita selesaikan dulu. Kalau dia mau launching BGN ini bisa dijalankan SPPG-nya. Sebelum izin selesai, jangan boleh produksi," tegas Subandi.
Subandi menilai perizinan menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan operasional SPPG. Pemerintah daerah membutuhkan proses tersebut untuk memeriksa kondisi dapur, keamanan pangan, hingga kelayakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
"Kalau sudah jalan kita tidak akan bisa monitor IPAL-nya seperti apa, kondisi dapurnya seperti apa, ini layak atau tidak," katanya.
Ratusan Santri Masih Jalani Perawatan
Penanganan terhadap para santri yang terdampak keracunan masih berlangsung hingga Rabu sore. Dari total 512 korban, sebanyak 82 santri masih menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan.
Selain itu, terdapat 128 santri yang masih berada dalam tahap observasi untuk memastikan kondisi kesehatan mereka. Sementara itu, sebanyak 312 santri telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan kembali menjalani aktivitas.
BGN bersama pemerintah daerah terus memantau kondisi para korban dan melakukan evaluasi terhadap SPPG yang terlibat dalam penyediaan makanan. Kejadian ini sekaligus menjadi perhatian dalam pelaksanaan program MBG agar aspek keamanan pangan dan kualitas makanan bagi para penerima manfaat semakin diperketat.