Viral Mahasiswi Undana Diduga Depresi Usai Ujian Skripsi Batal, Kampus Beri Respons

Genvoice.id | 03 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Seorang mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah menjadi perhatian publik setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan usai menghadapi kendala dalam proses ujian skripsi. Mahasiswi berinisial JS tersebut disebut mengalami tekanan hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Peristiwa ini bermula ketika JS diduga diminta mengganti dosen penguji menjelang pelaksanaan ujian skripsi. Situasi tersebut kemudian berdampak pada kondisi fisik dan mentalnya hingga membuat JS mendapatkan penanganan medis.

Pihak Universitas Nusa Cendana saat ini masih melakukan pendalaman terkait kronologi kejadian. Kampus memastikan proses klarifikasi dilakukan secara menyeluruh agar fakta yang diperoleh dapat menjadi dasar penyelesaian masalah secara objektif.

Mendikti Ikut Beri Dukungan untuk Mahasiswi Undana

Kasus yang dialami JS turut mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI Brian Yuliarto. Dukungan diberikan melalui komunikasi langsung dengan JS saat dirinya masih menjalani perawatan.

Rektor Undana, Prof Dr Ir Jefri S Bale, ST, MEng, mengungkapkan bahwa Mendiktisaintek menyampaikan harapan agar JS dapat segera pulih dan kembali melanjutkan proses pendidikannya hingga menyelesaikan studi.

Selain itu, pihak kampus juga telah mengunjungi JS untuk melihat langsung kondisinya. Rektor menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan kesehatan fisik dan mental mahasiswi tersebut membaik.

"Kami sampaikan agar fokus dulu pada pemulihan kesehatannya. Soal kelanjutan studi dan hak akademiknya, kampus menjamin akan dipenuhi sepenuhnya," ujar Prof Jefri.

Menurutnya, kondisi JS mulai menunjukkan perkembangan positif setelah mendapatkan perawatan dan waktu istirahat. Kampus berharap dukungan dari berbagai pihak dapat membantu JS kembali merasa nyaman dan siap menghadapi tahapan akademiknya.

Undana Pastikan Studi JS Tetap Dikawal

Setelah kondisi JS membaik, pihak rektorat bersama fakultas dan program studi terkait akan melakukan pendampingan terhadap proses penyelesaian skripsinya. Kampus memastikan mahasiswa tersebut tetap mendapatkan hak akademik sesuai aturan.

JS diketahui merupakan mahasiswa semester 10 yang sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah. Ia juga telah melewati ujian proposal dan hanya perlu menjalani tahap akhir berupa ujian hasil serta ujian skripsi.

Selain memberikan pendampingan kepada JS, Undana juga akan mengevaluasi prosedur bimbingan dan pelaksanaan ujian. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mencegah terulangnya permasalahan serupa di lingkungan kampus.

Undana Tegaskan Tidak Ada Toleransi Pelanggaran Akademik

Wakil Rektor IV Undana, Prof Philiphi de Rozari, menegaskan bahwa kampus tidak akan memberikan toleransi terhadap pelanggaran etika maupun tindakan yang merugikan mahasiswa. Namun, ia meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan resmi dari tim internal.

"Prinsipnya Undana zero tolerance. Tidak ada toleransi untuk kekerasan atau pelanggaran dalam bentuk apa pun di kampus. Kami sedang mendalami seluruh fakta agar informasi yang keluar benar-benar akurat," jelasnya.

Pihak kampus juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum proses pemeriksaan selesai. Undana memastikan setiap pihak yang terlibat akan mendapatkan perlakuan yang adil.

Kampus Siapkan Pendampingan Psikologis untuk JS

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana, Prof Apris Adu, menyampaikan bahwa kampus telah menyiapkan pendampingan psikologis bagi JS setelah kondisi kesehatannya stabil. Pendampingan tersebut nantinya akan melibatkan pihak dari program studi Psikologi.

Ia mengatakan penyebab pasti kondisi yang dialami JS masih dalam tahap penyelidikan. Kampus belum dapat memastikan apakah terdapat pelanggaran dalam proses akademik sebelum seluruh fakta terkumpul.

Namun, Prof Apris menegaskan apabila ditemukan adanya kesalahan dari pihak dosen maupun pihak lain, maka tindakan akan diberikan sesuai aturan yang berlaku. Begitu juga sebaliknya, jika tidak ditemukan pelanggaran, fakta akan disampaikan secara terbuka.

Kasus JS menjadi perhatian mengenai pentingnya dukungan kesehatan mental bagi mahasiswa, terutama mereka yang sedang menghadapi tekanan dalam menyelesaikan tugas akhir. Lingkungan akademik yang aman dan suportif dinilai penting agar mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tanpa mengalami beban berlebihan.