Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Tantangan Terbesar Industri Manufaktur Indonesia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan tantangan terbesar industri manufaktur Indonesia dalam beberapa bulan mendatang katanya tetap berasal dari volatilitas nilai tukar rupiah yang memengaruhi biaya produksi.
"Untuk menjaga daya saing industri, pemerintah perlu menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengurangi berbagai sumber inefisiensi struktural yang selama ini membebani dunia usaha," katanya, Selasa (2/6).
Ia menilai kenaikan PMI manufaktur RI bukan sebagai sinyal pemulihan manufaktur yang kuat, tetapi lebih mencerminkan upaya pelaku usaha bertahan di tengah tekanan ekonomi, bukan lonjakan permintaan yang nyata.
Kenaikan PMI pada Mei kemungkinan lebih dipengaruhi oleh langkah pelaku industri menambah persediaan bahan baku sebagai antisipasi terhadap ketidakpastian global. Tekanan harga bahan baku dan berbagai input produksi mendorong perusahaan mengambil langkah berjaga-jaga guna menghindari risiko kenaikan biaya di masa mendatang.
Menurut Aloysius, tambahan permintaan yang tercermin dalam kenaikan PMI lebih didorong motif kehati-hatian dibandingkan peningkatan konsumsi atau permintaan pasar yang benar-benar pulih. Karena itu, perkembangan PMI dalam beberapa bulan ke depan masih perlu dicermati untuk memastikan apakah sektor manufaktur benar-benar memasuki fase ekspansi yang berkelanjutan.
Dinamika Global
Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 membaik ke level 50,0 dibanding posisi April yang tercatat 49,1 atau berada di zona kontraksi.
Peningkatan tersebut mencerminkan respons industri dalam menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika global yang masih berlangsung. Pelaku industri melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku guna memastikan kegiatan produksi tetap berjalan dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut data Kementerian Perindustrian, struktur impor Indonesia saat ini sekitar 70 persen merupakan bahan baku dan bahan penolong, sekitar 15 persen berupa barang modal seperti mesin dan peralatan, sedangkan sisanya merupakan barang konsumsi. Dengan adanya tantangan logistik global dan meningkatnya ketidakpastian akses bahan baku impor, industri memilih memperbesar stok bahan baku untuk menjaga kesinambungan operasi.
Peneliti Ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, menilai capaian tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi, bukan pemulihan. Secara teknis, 50,0 adalah garis batas antara kontraksi dan ekspansi, belum mencerminkan pertumbuhan industri yang kuat.
Perbaikan PMI jelasnya perlu dicermati lebih dalam. Sebagian kenaikan indeks justru dipicu memburuknya waktu pengiriman pemasok. Dalam metodologi PMI, keterlambatan pengiriman justru memberi kontribusi positif ke indeks.
"Selama delapan bulan terakhir, waktu pengiriman terus memanjang akibat gangguan distribusi dan keterbatasan bahan baku. Secara statistik ini menopang PMI, tapi secara ekonomi justru mencerminkan tekanan pada rantai pasok," katanya.
Dari sisi produksi, output manufaktur masih terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Penyebab utamanya, harga bahan baku tinggi dan pasokan terbatas. Kenaikan pesanan baru juga belum sepenuhnya sehat karena sebagian berasal dari upaya pelanggan menambah stok sebelum harga naik atau pasokan makin langka.
Masalah terbesar saat ini adalah biaya produksi. Inflasi biaya input Mei 2026 mencapai level tertinggi sejak survei PMI Indonesia dimulai 2013, dipicu kenaikan harga bahan baku. Kebergantungan impor bahan baku dan barang antara membuat pelemahan rupiah makin menekan biaya dan daya saing industri.
Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa menilai, pelemahan nilai tukar rupiah jadi risiko utama bagi industri manufaktur ke depan. Untuk meredam dampaknya, dia menyarankan pelaku industri segera mengamankan stok bahan baku. Ia juga menekankan pentingnya membangun alternatif rantai pasok global demi keberlanjutan bisnis.
Menurut Awan, ketergantungan pada satu sumber impor membuat industri rentan saat rupiah tertekan. Lonjakan biaya bahan baku impor langsung menggerus margin dan daya saing produk dalam negeri.
Ia juga mendorong industri dalam negeri mulai melirik bahan baku dan pasar domestik sebagai substitusi. ers/YK/E-9