Profil Dadan Hindayana: Dari Dosen IPB, Kepala BGN, hingga Berakhir di Jeruji Besi

Genvoice.id | 03 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Roda kehidupan memang berputar dengan sangat cepat, dan nasib Dadan Hindayana menjadi salah satu buktinya.

Nama pria asal Sukabumi ini mendadak jadi buah bibir di mana-mana. Belum kering pembicaraan soal keputusan Presiden Prabowo Subianto yang mencopotnya dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), publik kembali dikejutkan dengan kabar penahanannya oleh Kejaksaan Agung.

Banyak orang menyayangkan ironi ini. Sebab, sebelum tersandung kasus hukum, Dadan adalah salah satu sosok kepercayaan pemerintah yang memikul tanggung jawab super besar, yaitu mengeksekusi Program Makan Bergizi Gratis untuk anak-anak sekolah di seluruh Indonesia.

Bagaimana sebenarnya perjalanan hidup seorang Dadan Hindayana hingga sampai di titik ini? Yuk, kita kilas balik sebentar.

Berawal dari Dunia Akademis dan Kecintaan pada Serangga

Jauh sebelum namanya wara-wiri di berita politik dan hukum, Dadan sebenarnya adalah seorang akademisi murni yang jauh dari hiruk-pikuk pemerintahan. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) University sebagai dosen sekaligus pakar entomologi, sebuah cabang ilmu yang khusus mempelajari seluk-beluk serangga.

Dadan mengawali perjalanannya di IPB sejak lulus sarjana pada tahun 1990. Rasa haus akan ilmu kemudian membawanya terbang ke Jerman. Di sana, ia menyelesaikan studi master sekaligus meraih gelar doktor dari Universitas Goettingen pada tahun 2000.

Setelah pulang ke tanah air, Dadan kembali ke pelukan almamaternya untuk mengajar dan meneliti, bahkan sempat dipercaya memimpin sebagai Ketua Departemen Proteksi Tanaman di IPB. Di kalangan mahasiswa dan rekan dosen, ia dikenal sebagai sosok ilmuwan yang fokus pada bidang pertanian.

Masuk Ring Satu Politik dan Merancang Program "Makan Gratis"

Pintu takdir Dadan mulai berubah arah menjelang masa-masa Pilpres 2024. Pria kelahiran 17 Oktober 1967 ini memutuskan keluar dari zona nyaman akademis dan bergabung dengan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Bukan sebagai pemandu sorak, Dadan duduk di barisan Dewan Pakar. Di sinilah ia bersama timnya begadang merumuskan konsep, anggaran, hingga coretan teknis di balik program Makan Bergizi Gratis.

Karena dinilai paling paham luar-dalam soal program ini, Presiden Joko Widodo akhirnya melantik Dadan sebagai Kepala BGN pertama pada Agustus 2024. Posisi mentereng ini pun tetap dipertahankan ketika estafet kepemimpinan negara resmi beralih ke tangan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2024.

Sebagai nakhoda pertama BGN, beban di pundak Dadan sangat berat. Ia harus memikirkan bagaimana caranya mendirikan ribuan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di pelosok negeri, merangkul petani lokal untuk pasokan bahan baku, sampai memastikan makanan sehat itu benar-benar mendarat dengan aman di meja belajar jutaan anak Indonesia.

Titik Balik dan Akhir Perjalanan di Badan Gizi

Sayangnya, impian besar itu harus kandas di tengah jalan. Setelah berjalan beberapa bulan, Presiden Prabowo melakukan evaluasi besar-besaran terhadap performa instansi dan jalannya program prioritas tersebut. Hasilnya, Istana memutuskan untuk menyegarkan kepemimpinan BGN.

Posisi Dadan sebagai Kepala BGN resmi digantikan oleh wakilnya sendiri, Nanik S. Deyang. Cerita ternyata tidak berhenti di meja pencopotan jabatan saja. Hanya selang beberapa saat setelah pengumuman dari Istana keluar, tim penyidik Kejaksaan Agung bergerak cepat. Dadan diperiksa dan langsung ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus korupsi pengadaan di internal BGN, yang akhirnya membuat dirinya harus bermalam di Rutan Salemba.

Perjalanan hidup Dadan Hindayana ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua, betapa tingginya amanah sebuah jabatan publik, dan betapa cepatnya panggung itu bisa berubah dalam sekejap mata.