Pasar Saham Berduka! IHSG Hari Ini Anjlok ke Level Terendah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar kurang sedap datang dari panggung investasi dalam negeri lagi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan yang cukup dalam pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Pada penutupan sesi pertama, indeks saham domestik ini ambles hingga 4,94 persen dan terlempar ke posisi 5.889,48.
Penurunan tajam yang melenyapkan sekitar 306 poin hanya dalam satu sesi ini membuat IHSG mencatatkan rekor harga terendah dalam lima tahun terakhir. Situasi merosot seperti ini terakhir kali terjadi pada Mei 2021, saat pasar saham sedang berjuang bangkit dari hantaman pandemi Covid-19.
Ribuan Saham Bertumbangan Secara Massal
Kondisi lantai bursa pada hari ini benar-benar didominasi oleh warna merah. Bayangkan saja, dari sekian banyak emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya ada 35 saham yang berhasil menguat.
Sebaliknya, ada 714 saham yang kompak berguguran. Saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) dan saham milik para konglomerat yang biasanya menjadi penopang utama indeks, kini justru berbalik menjadi beban berat yang menyeret IHSG ke bawah. Padahal, nilai transaksi di sesi pertama tergolong sangat ramai karena hampir menyentuh angka Rp15 triliun.
Efek Pecahnya "Gelembung Saham" Mahal
Jika kilas balik ke belakang, saham-saham grup konglomerasi sempat menjadi bahan bakar utama yang membuat IHSG berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada awal tahun 2026, tepatnya di level 9.134. Namun, situasi kini berbalik arah secara drastis sejak awal tahun.
Salah satu pemicu utamanya adalah adanya peringatan keras dari penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE. Lembaga-lembaga tersebut menyoroti harga beberapa saham di Indonesia yang dinilai sudah terlampau mahal dan tidak masuk akal secara valuasi, bahkan ada yang harganya mencapai ratusan hingga seribu kali lipat dari laba bersih per sahamnya.
Selain itu, kepemilikan saham yang terlalu terpusat pada pihak tertentu membuat penyedia indeks global mulai mengkaji ulang tingkat kelayakan investasi di bursa Indonesia.
Berjalan Mundur ke Masa Sulit?
Meskipun pemerintah dan pihak regulator bursa sudah mencoba mengambil berbagai langkah cepat untuk membenahi situasi, pasar tampaknya belum merespons positif. Kenaikan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai hanya bersifat semu karena pada akhirnya IHSG terus tergerus.
Posisi IHSG saat ini bahkan sudah lebih rendah dibandingkan dengan masa sebelum pandemi yang sempat berada di level 6.693. Hal ini memicu kekhawatiran besar di kalangan investor. Banyak yang mulai bertanya-tanya apakah penurunan ini sudah menyentuh titik terendah, atau justru indeks masih akan terus berjalan mundur mendekati level terpuruknya saat puncak pandemi tahun 2020 lalu.