Iran Respons Tegas Setiap Agresi AS di Selat Hormuz
JAKARTA, GENVOICE.ID - Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal Amerika Serikat-Israel MSC Sariska dengan rudal jelajah sebagai respons atas serangan AS terhadap kapal Iran di Teluk Oman.
"Menyusul serangan agresif Angkatan Darat AS terhadap kapal Iran, Lion Star, di Teluk Oman, sebagai balasannya, Angkatan Laut IRGC meluncurkan serangan rudal jelajah ke kapal AS-Israel MSC Sariska," kata IRGC, seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Menurut laporan RIA Novosti dari Teheran, Selasa, IRGC menegaskan bahwa setiap agresi AS di Selat Hormuz akan ditanggapi dengan respons yang tegas.
Memilih Diam
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan memilih diam jika Iran menangguhkan pembicaraan damai tidak langsung dengan Washington. "Saya pikir kita sudah terlalu banyak bicara, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya. Saya pikir diam akan sangat baik," kata Trump kepada NBC News, Senin (1/6).
Trump mengklarifikasi bahwa jeda dalam negosiasi tidak selalu berarti dimulainya kembali serangan secara langsung, tetapi blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tegasnya akan tetap berlaku.
AS katanya akan membiarkan Iran menunggu "selama yang mereka inginkan" karena Teheran sangat dirugikan atas blokade tersebut.
Pernyataan Trump disampaikan menyusul laporan dari kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, bahwa Teheran menghentikan pembicaraan damai melalui mediator sebagai protes atas serangan Israel di Lebanon.
Risiko gagalnya perundingan antara AS dan Iran tetap ada, salah satunya karena kebijakan Israel. Kendati demikian, peluang untuk melanjutkan dialog antara kedua pihak juga masih terbuka.
"Tindakan Israel dan ketegangan yang terus berlanjut di kawasan menimbulkan risiko tambahan bagi proses negosiasi. Meski demikian, para pihak belum kehilangan kesempatan untuk melanjutkan dialog mereka," , kata seorang sumber di pemerintahan Turkiye kepada RIA Novosti, Selasa (2/6).
Sumber itu menambahkan bahwa Turkiye berharap dapat membantu merumuskan formula yang dapat diterima bersama oleh AS dan Iran serta memandang jalur diplomasi sebagai satu-satunya cara untuk mencapai hasil yang berkelanjutan.
"Masih terlalu dini untuk berbicara mengenai kebuntuan total. Kontak masih terus berlangsung dan peluang untuk menemukan kompromi tetap ada," katanya.
Turkiye juga memperkirakan perundingan antara AS dan Iran akan terus berlanjut meskipun masih terdapat perbedaan pandangan di antara kedua pihak.
Sebelumnya pada Senin (1/6) , Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan terhadap target yang diduga terkait kelompok Hizbullah di pinggiran Beirut, Lebanon.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pelanggaran gencatan senjata di Lebanon juga merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Pada hari yang sama, setelah melakukan pembicaraan dengan Netanyahu dan perwakilan Hizbullah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kelompok Lebanon tersebut dan Israel akan menyepakati gencatan senjata. Ant/E-9