Mengapa AS Nekat Serang Iran Meski Jalur Perdagangan Minyak di Selat Hormuz Jadi Taruhannya? Ini Strategi Donald Trump
JAKARTA, GENVOICE.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki babak baru. Serangan balasan Teheran dilaporkan menyasar sejumlah titik strategis di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Sorotan utama kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini menjadi salah satu koridor energi terpenting di planet ini. Pejabat Iran mengisyaratkan kemungkinan pembatasan bahkan penutupan jalur tersebut, meski belum ada keputusan resmi yang diumumkan.
Sejumlah laporan menyebut kapal-kapal tanker yang melintas menerima peringatan melalui transmisi radio dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Beberapa perusahaan pelayaran pun memilih menunda pengiriman minyak dan gas sebagai langkah antisipasi. Negara seperti Yunani turut mengimbau armadanya untuk menghindari kawasan tersebut.
Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman serta dekat dengan Uni Emirat Arab. Lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, dengan jalur pelayaran efektif sekitar 3 kilometer di masing-masing arah. Meski sempit, jalur ini mampu dilalui kapal tanker raksasa pengangkut minyak mentah dan gas alam cair.
Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat ini. Nilai perdagangannya mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun. Selain minyak mentah, hampir seperlima distribusi LNG global juga melalui rute tersebut, dengan Qatar sebagai salah satu eksportir utama. Mayoritas pasokan ini mengalir ke Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Para analis menilai gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak. Sekitar 30 persen minyak mentah dunia yang diangkut lewat laut melewati jalur ini. Tidak hanya minyak, hampir 20 persen bahan bakar jet dan sekitar 16 persen aliran bensin serta nafta global juga bergantung pada koridor tersebut.
Dampaknya tidak berhenti di pasar energi. Lonjakan harga minyak berpotensi mempercepat inflasi global, memperketat kondisi keuangan, serta menekan pertumbuhan ekonomi. Jika harga minyak menembus 100 dolar AS per barel dan bertahan, inflasi global bisa terdongkrak hingga hampir satu persen tambahan.
Namun, Amerika Serikat dinilai relatif lebih siap menghadapi guncangan tersebut dibanding banyak negara lain. Selain memiliki cadangan strategis, AS dalam beberapa tahun terakhir memperluas pengaruhnya terhadap sumber energi di kawasan lain, termasuk Venezuela yang dikenal memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Diversifikasi sumber pasokan ini membuat ketergantungan langsung AS terhadap jalur Hormuz tidak sebesar negara-negara Asia.
Meski demikian, penutupan Selat Hormuz tetap menjadi ancaman sistemik bagi ekonomi global. Jalur ini bukan sekadar perairan sempit, melainkan simpul vital perdagangan energi internasional. Selama konflik belum mereda dan ancaman pembatasan masih terbuka, volatilitas harga minyak diperkirakan akan terus membayangi pasar dunia.