Drama ‘Emilia Pérez’ di Oscars 2025, Dari 13 Nominasi ke Peluang Best Picture yang Makin Menipis

Genvoice.id | 03 Mar 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Meski Zoe Saldaña menjadi unggulan kuat untuk membawa pulang piala Best Supporting Actress di Academy Awards ke-97 atau Oscars 2025 pada Minggu, (2/3), dan film musikal berbahasa Spanyol berjudul Emilia Pérez tetap difavoritkan menang di kategori Best International Feature Film, harapan untuk menyabet gelar Best Picture justru makin meredup.

Seperti halnya dunia politik, perjalanan menuju kemenangan Oscar jarang mulus. Film yang menjadi front-runner sering kali dihantam kontroversi, apalagi di era media sosial yang kian liar. Dengan total 13 nominasi-terbanyak tahun ini-Emilia Pérez pun tak luput dari sorotan dan serangan.

Di awal kemunculannya November 2024, film besutan Jacques Audiard ini sempat menuai banyak pujian. Mengisahkan seorang bos kartel kejam yang memalsukan kematiannya lalu menjalani operasi pergantian gender, Emilia Pérez hadir sebagai musikal yang nyeleneh, penuh warna, dan berani.

Kehadiran aktris transgender Karla Sofía Gascón sebagai pemeran utama pun menjadi highlight di tengah semakin gencarnya serangan terhadap hak-hak trans di berbagai belahan dunia.

Namun, gelombang kritik datang pelan tapi pasti. Meski mendapat rating 72 persen di Rotten Tomatoes, Emilia Pérez justru jeblok di skor penonton dengan hanya 16 persen di Popcornmeter, dan bisa jadi angka ini turun lebih jauh pasca-kontroversi.

Fakta bahwa film ini berbahasa Spanyol tetapi justru diproduksi di Prancis, bukan Meksiko yang menjadi tempat latar ceritanya, juga memicu tanda tanya. Sutradara Audiard bahkan terang-terangan mengaku tidak melakukan banyak riset tentang Meksiko.

Sementara beberapa pemerannya seperti Adriana Paz dan Selena Gomez memang memiliki darah Meksiko, mayoritas cast tidak, Zoe Saldaña berasal dari Puerto Rico dan Republik Dominika, Gascón dari Spanyol, serta Edgar Ramirez dari Venezuela.

Kegaduhan semakin menjadi setelah Gascón mengeluarkan pernyataan kontroversial dalam wawancara dengan media Brasil Folha de S. Paulo pada 21 Januari lalu. Ia menuduh adanya kampanye terkoordinasi yang menyerang Emilia Pérez, bahkan secara tak langsung menyebut pihak yang mendukung aktris I'm Still Here, Fernanda Torres, berada di baliknya.

"Saya tidak suka dengan tim media sosial-orang-orang yang bekerja untuk mereka-yang mencoba menjatuhkan saya dan film saya. Itu bukan cara yang tepat," ujar Gascón, dikutip dari E News pada Minggu, (2/3).

"Saya tidak pernah berbicara buruk tentang Fernanda Torres atau filmnya. Namun, ada orang-orang dari kubunya yang justru menyerang saya dan Emilia Pérez. Itu lebih banyak bercerita tentang mereka daripada tentang saya," tambahnya.

Meski pernyataan itu tidak melanggar aturan Academy Awards (karena Gascón tidak mengkritik langsung performa akting Torres atau filmnya), tetap saja komentar ini memperkeruh suasana.

Gascón kemudian buru-buru meralat ucapannya dalam pernyataan ke Variety pada 29 Januari, "Saya sangat mengagumi Fernanda Torres, dan selama beberapa bulan terakhir, saya senang bisa mengenalnya lebih dekat. Yang saya maksud dalam komentar saya adalah kekerasan ujaran kebencian di media sosial yang masih saya alami. Fernanda adalah sekutu yang luar biasa, dan tidak ada satu pun orang di sekitarnya yang bersikap tidak suportif terhadap saya."

Namun, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Setelah pernyataan tersebut, Gascón memilih absen dari berbagai ajang penghargaan bergengsi seperti Critics Choice Awards, BAFTA, dan SAG Awards.

Meski citranya tercoreng, peluang Emilia Pérez untuk menang di beberapa kategori masih ada. Zoe Saldaña tetap menjadi favorit Best Supporting Actress, dan film ini juga berpotensi membawa pulang Best International Feature Film, kategori yang sebelumnya mereka menangkan di Golden Globes dan BAFTA. Bahkan, Emilia Pérez masih bisa mencetak sejarah di Best Original Song dengan dua nominasinya: El Mal dan Mi Camino.

Kini, tinggal menunggu apakah drama sepanjang musim penghargaan ini akan berakhir dengan kemenangan atau justru menjadi kisah tentang hype yang memudar terlalu cepat.