NTP Menurun, Bisa Hambat Produksi Pangan Akibat Masalah Finansial Petani

Genvoice.id | 02 Dec 2025

JAKARTA - Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta mengatakan, penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) menarik perhatian karena mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi oleh para petani di lapangan.

"Ketika NTP berada pada posisi tinggi, artinya petani memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. Sebaliknya, sebuah penurunan NTP menunjukkan bahwa pendapatan petani tidak cukup untuk menutupi biaya yang harus mereka bayar," ungkap Muliarta.

Menurut laporan BPS, pada bulan November 2025, indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan yang lebih signifikan, yaitu sebesar 0,26 persen, turun dari 155,13 menjadi 154,72. Penurunan itu didorong oleh fluktuasi harga pada beberapa komoditas utama yang menjadi andalan sektor pertanian, termasuk gabah, kelapa sawit, kakao, dan tembakau.

Sementara itu, indeks harga yang dibayarkan petani hanya turun sedikit, yakni sebesar 0,03 persen dari 124,77 menjadi 124,73. "Dengan kata lain, penurunan pendapatan yang diterima petani lebih besar dibandingkan penurunan biaya yang mereka harus keluarkan. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan finansial yang berpotensi merugikan para petani," kata Muliarta.

Penurunan NTP itu terang Muliarta memberi sinyal penting mengenai kesejahteraan petani. Dalam situasi di mana pendapatan menurun, petani dapat menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, serta berinvestasi dalam operasional pertanian mereka.

"Jika kondisi ini dibiarkan berlanjut, dampaknya bisa sangat serius, termasuk pada ketahanan pangan secara keseluruhan, karena produksi pangan dapat terhambat oleh masalah finansial yang dihadapi petani,"tegasnya.

Dalam menghadapi tantangan itu, dibutuhkan langkah-langkah konkret dari pemerintah dan para pemangku kepentingan. Misalnya, pemerintah dapat mempertimbangkan untuk menerapkan intervensi harga, seperti memberikan subsidi pada komoditas yang harganya mengalami penurunan, atau menetapkan harga minimum untuk melindungi petani dari kerugian.

Selain itu, meningkatnya produktivitas pertanian melalui pelatihan dan dukungan teknis juga menjadi langkah penting yang perlu diambil. Mendorong akses pasar yang lebih baik akan membantu petani mendapatkan harga yang lebih adil, serta menambah pendapatan mereka dari hasil pertanian.

Penurunan Harga Komoditas

Diminta di waktu terpisah, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwijono Hadi Darwanto menilai penurunan harga pada komoditas-komoditas besar tersebut langsung memberikan efek signifikan pada NTP. "Komoditas yang indeks harganya turun itu relatif besar dan menentukan karena merupakan komoditas unggulan petani dan nasional, sehingga penurunan indeks harga yang kecil saja akan mempengaruhi indeks harga yang diterima petani secara keseluruhan," kata Dwijono.

Meski beberapa komoditas lain kata Dwijono mengalami kenaikan harga, peningkatan tersebut hanya cukup untuk menahan penurunan agar tidak lebih dalam. Ia menegaskan bahwa kondisi pertanian saat ini sedang menghadapi tantangan berat, terutama karena curah hujan yang sangat tinggi memasuki musim penghujan akhir tahun.

"Kondisi umum pertanian kita yang terlalu banyak hujan seperti ini kurang menguntungkan bagi tanaman karena pembungaan terganggu," katanya. Dampaknya, kualitas buah menjadi menurun, lebih mudah rusak atau busuk, sehingga harga jual pun turun.

 

NTP Menurun

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai tukar petani (NTP) secara nasional pada November 2025 sebesar 124,05 atau menurun 0,23 persen dibandingkan dengan Oktober 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di Jakarta, Senin (1/12) mengatakan bahwa perkembangan tersebut dipengaruhi oleh indeks harga yang diterima petani (It) turun lebih dalam dibandingkan dengan penurunan indeks harga yang dibayarkan petani (Ib).

Pada November 2025, secara nasional It turun sebesar 0,26 persen dibanding It Oktober 2025, yaitu dari 155,13 menjadi 154,72. Sedangkan Ib turun sebesar 0,03 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 124,77 menjadi 124,73.

Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan indeks harga yang diterima petani nasional adalah gabah, kelapa sawit, kakao atau coklat biji, serta tembakau.

Jika dilihat berdasarkan subsektor, BPS mencatat subsektor yang mengalami penurunan NTP terdalam adalah subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) yakni sebesar -0,66 persen.

Hal itu terjadi karena It pada subsektor tersebut mengalami penurunan sebesar 0,85 persen, lebih besar dari penurunan Ib sebesar 0,19 persen. Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan It tersebut antara lain kelapa sawit, kakao atau coklat biji, tembakau, dan kelapa.

Sementara itu, nilai tukar nelayan (NTN) mengalami kenaikan sebesar 0,70 persen. Hal ini disebabkan karena It mengalami peningkatan sebesar 0,66 persen, sementara Ib turun sebesar 0,04 persen.

Beberapa komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan It pada NTN meliputi ikan tongkol, ikan kembung atau kobang atau sumbo, serta cumi-cumi dan kakap.

Terkait harga beras, BPS melaporkan rata-rata harga beras di penggilingan pada November 2025 turun 0,88 persen secara (month-to-month/mtm) tetapi naik sebesar 6 persen secara (year on year/yoy).