Kisah Tragis Alan Turing, Bapak Komputer Modern yang Dihukum karena Orientasi Seksualnya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Alan Turing dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan komputer modern. Matematikawan asal Inggris ini berjasa membantu Sekutu memecahkan kode rahasia militer Jerman Nazi selama Perang Dunia II. Pemikirannya juga menjadi fondasi bagi perkembangan ilmu komputer dan kecerdasan buatan (AI).
Namun, di balik kontribusinya yang besar, Turing mengalami kehidupan tragis akibat diskriminasi terhadap orientasi seksualnya. Ia pernah dijatuhi hukuman oleh pemerintah Inggris karena menjalin hubungan dengan sesama pria. Beberapa tahun kemudian, Turing meninggal dunia pada usia 41 tahun dalam kondisi yang masih menyisakan sejumlah perdebatan.
Berjasa Memecahkan Kode Rahasia Nazi
Alan Mathison Turing lahir pada 23 Juni 1912 di London, Inggris. Sejak muda, ia menunjukkan kemampuan luar biasa dalam bidang matematika. Ia menempuh pendidikan di King's College, Cambridge, sebelum melanjutkan studi doktoral di Princeton University, Amerika Serikat.
Namanya semakin dikenal ketika Inggris terlibat dalam Perang Dunia II. Pada 1939, Turing bergabung dengan tim pemecah kode di Bletchley Park, pusat intelijen Inggris selama perang.
Di sana, ia membantu menguraikan pesan militer Jerman yang dienkripsi menggunakan mesin Enigma. Teknologi tersebut digunakan Nazi untuk mengamankan komunikasi militer sehingga informasi di dalamnya sulit dibaca oleh pihak Sekutu.
Turing kemudian berperan dalam pengembangan mesin Bombe, sebuah perangkat elektromekanis yang membantu menemukan pengaturan kode Enigma. Pekerjaan tersebut dilakukan bersama sejumlah ilmuwan dan ahli kriptografi lainnya.
Keberhasilan memecahkan kode Enigma memberikan keuntungan intelijen bagi Sekutu. Informasi yang diperoleh membantu mereka memahami pergerakan dan strategi militer Jerman selama perang.
Pemikiran yang Menjadi Fondasi Komputer Modern
Kontribusi Turing tidak berhenti setelah Perang Dunia II. Pada 1936, ia memperkenalkan konsep mesin teoretis yang kemudian dikenal sebagai Turing Machine. Gagasan tersebut menjelaskan bagaimana sebuah mesin dapat menjalankan instruksi untuk menyelesaikan persoalan komputasi.
Pemikiran itu menjadi salah satu dasar penting dalam ilmu komputer. Turing juga ikut mengembangkan teknologi komputasi di Inggris setelah perang.
Pada 1950, ia menerbitkan tulisan berjudul "Computing Machinery and Intelligence". Dalam karya tersebut, Turing mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan mesin memiliki kemampuan berpikir seperti manusia.
Ia kemudian memperkenalkan metode pengujian yang dikenal sebagai Turing Test. Konsep ini digunakan untuk membahas kemampuan mesin dalam menunjukkan perilaku yang menyerupai kecerdasan manusia.
Gagasan tersebut menjadikan Turing sebagai salah satu pelopor pemikiran tentang kecerdasan buatan jauh sebelum teknologi AI berkembang seperti sekarang.
Dihukum karena Orientasi Seksualnya
Di tengah kontribusinya bagi ilmu pengetahuan, kehidupan pribadi Turing justru menjadi persoalan hukum. Pada 1952, ia terlibat dalam penyelidikan polisi setelah rumahnya menjadi sasaran pencurian. Dalam proses tersebut, hubungan Turing dengan seorang pria bernama Arnold Murray terungkap.
Pada masa itu, hubungan seksual sesama pria masih dianggap sebagai tindak pidana di Inggris. Turing kemudian didakwa atas tuduhan gross indecency atau tindakan tidak senonoh.
Pada 31 Maret 1952, ia dinyatakan bersalah. Turing mendapat pilihan antara menjalani hukuman penjara atau masa percobaan dengan syarat menjalani pengobatan hormonal untuk menekan libido.
Ia memilih masa percobaan dan harus menjalani pengobatan yang dikenal sebagai pengebirian kimiawi (chemical castration). Pengobatan tersebut menimbulkan dampak fisik dan psikologis yang berat.
Kasus hukum itu juga memengaruhi pekerjaannya. Turing kehilangan izin keamanan sehingga tidak lagi dapat melanjutkan sejumlah pekerjaan sensitif untuk pemerintah Inggris. Kondisi tersebut menjadi ironi mengingat sebelumnya ia telah membantu negara dalam upaya intelijen selama Perang Dunia II.
Meninggal pada Usia 41 Tahun
Pada 8 Juni 1954, Turing ditemukan meninggal di rumahnya di Wilmslow, Cheshire, Inggris. Ia meninggal akibat keracunan sianida pada usia 41 tahun.
Pemeriksaan koroner saat itu menyimpulkan bahwa kematiannya merupakan bunuh diri. Namun, ibunya, Sara Turing, meyakini bahwa kematian putranya mungkin merupakan kecelakaan yang berkaitan dengan eksperimen kimia yang dilakukannya.
Meski demikian, kesimpulan resmi tetap menyatakan bahwa Turing meninggal karena bunuh diri. Peristiwa tersebut menjadi akhir tragis bagi ilmuwan yang pemikirannya telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan teknologi.
Mendapat Pengampunan Puluhan Tahun Setelah Kematiannya
Perlakuan terhadap Turing kemudian mendapat perhatian luas dari masyarakat Inggris. Pada 2009, Perdana Menteri Inggris saat itu, Gordon Brown, menyampaikan permintaan maaf resmi atas perlakuan pemerintah terhadapnya.
Pada 24 Desember 2013, Ratu Elizabeth II memberikan pengampunan kerajaan secara anumerta atas kasus yang menjerat Turing pada 1952.
Pemerintah Inggris kemudian mengesahkan kebijakan yang dikenal sebagai Turing's Law pada 2017. Kebijakan tersebut memberikan pengampunan kepada ribuan pria yang pernah dihukum berdasarkan undang-undang lama terkait hubungan sesama jenis.
Kisah Alan Turing menjadi pengingat bahwa seseorang yang memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan pun dapat menjadi korban diskriminasi. Meski hidupnya berakhir tragis, pemikiran dan penemuannya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan teknologi modern.