Jelang GP Singapore: Bahaya Suhu Panas, Diprediksi Melebihi 31 Derajat Celcius
JAKARTA, Genvoice.id - Menjelang gelaran Singapore Grand Prix 2025, perhatian tidak hanya tertuju pada persaingan antara pembalap dan tim, tetapi juga pada kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi akan menjadi salah satu faktor penentu. Organisasi Pengatur (FIA) bahkan telah mengeluarkan heat hazard pertama dalam sejarah F1, menyusul prakiraan indeks panas (heat index) yang bisa melewati angka 31,0 °C selama perlombaan.
Balapan di sirkuit jalanan Marina Bay sudah terkenal sebagai salah satu yang paling menuntut secara fisik dalam kalender F1. Sirkuit seperti ini memperlambat aliran udara dalam kabin, mempersulit pendinginan alami. Ditambah panas tinggi, sesi lomba sering memaksa pebalap kehilangan beberapa kilogram berat tubuh akibat keringat.
Berdasarkan prakiraan resmi, selama tiga hari sesi lomba (latihan bebas, kualifikasi, dan balapan) suhu udara diperkirakan akan berada di kisaran 30-33 °C, dengan indeks panas yang secara nyata bisa terasa jauh lebih menyengat karena kelembapan tinggi.
Misalnya, pada Jumat (sesi latihan), suhu maksimum yang diharapkan mencapai 32 °C, dan potensi hujan lokal tetap ada. Sementara itu, pada hari balapan, suhu udara sekitar 30-32 °C dengan kelembapan tinggi diperkirakan membentuk situasi hampir seperti "sauna" di dalam kokpit mobil.
Kondisi seperti ini mengundang risiko fisik serius bagi pebalap: dehidrasi, kelelahan, penurunan konsentrasi, dan stres termal. Laporan dari RacingNews365 menyebutkan bahwa di bawah panas dan kelembapan ekstrem seperti ini, kondisi lapangan dan kabin bisa terasa "37 °C" secara efektif untuk pebalap selama sesi panjang.
Karena prediksi cuaca yang ekstrem, FIA resmi mendeklarasikan heat hazard untuk GP Singapura 2025. Menurut regulasi baru, ketika prakiraan indeks panas melewati 31,0 °C, tim mesti diingatkan dan sistem pendingin khusus untuk pengemudi diwajibkan disiapkan.
Sistem itu mencakup vest pendingin (cooling vest) yang berisi cairan berpendingin yang disirkulasikan melalui pipa di tubuh pengemudi. Namun, partisipasi dalam mengenakan vest ini bersifat peluang, bukan kewajiban total, pengemudi bisa memilih untuk tidak menggunakan vest, tapi sebagai konsekuensinya akan ada penambahan ballast (berat tambahan) di kokpit mobil mereka.