5 Kejanggalan Fatal Robohnya Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Timpa 100 Santri Saat Sedang Salat

Genvoice.id | 02 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Tragedi pilu melanda Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, setelah bangunan musala berlantai tiga yang masih dalam tahap pembangunan ambruk pada Senin (29/9/2025).

Insiden fatal ini menimpa sekitar 100 santri yang sedang melaksanakan salat Asar berjemaah. Tiga santri dilaporkan meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. Dugaan sementara penyebab robohnya bangunan Ponpes Al Khoziny adalah tiang penopang tidak mampu menahan beban cor.

Tim SAR gabungan kesulitan mengevakuasi karena struktur reruntuhan sangat rapuh, seperti "jaring laba-laba". Tragedi ini langsung memicu pertanyaan besar soal keamanan konstruksi. Berikut lima kejanggalan fatal yang terungkap:

  1. Kolom Tiang Gagal Menahan Beban Cor

Insiden terjadi saat santri salat di lantai dua, sementara di lantai tiga sedang dilakukan pengecoran atap. Diduga, tiang penopang tidak mampu menahan beban cor semen yang baru dituangkan sejak pagi.

Santri penyintas, Muhammad Rijalul Qoib (13), menggambarkan detik-detik mengerikan saat ia tertimpa atap sebelum berhasil merangkak keluar.

  1. Bangunan Belum Selesai Tapi Sudah Dipakai (Kelalaian)

Musala tiga lantai ini masih dalam tahap pembangunan (baru 9-10 bulan) tetapi sudah difungsikan untuk salat berjemaah. Ini jelas merupakan dugaan kelalaian fatal karena mengabaikan standar keselamatan, apalagi dengan aktivitas konstruksi di lantai atas.

  1. Diduga Tidak Kantongi IMB

Bupati Sidoarjo, Subandi, menyebut pihak pengelola ponpes belum mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Ketiadaan izin resmi ini menambah daftar panjang masalah administratif dan standar keselamatan.

  1. Santri Dilibatkan dalam Pembangunan

Beberapa kesaksian menyebutkan santri, termasuk yang berusia 18 tahun, ikut dilibatkan dalam pekerjaan berat seperti pengecoran. Bahkan, ada yang mengaku keterlibatan itu kerap dijadikan hukuman. Ini adalah praktik berbahaya dan jelas melanggar fokus pendidikan.

  1. Struktur Rapuh, Evakuasi Sulit

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafeii, menyebut tim belum bisa menggunakan alat berat karena struktur sisa reruntuhan sangat rapuh. Petugas terpaksa membuat terowongan kecil dan mencoba memberikan makanan pada korban yang masih terperangkap.

Pengasuh Ponpes, KH R Abdus Salam Mujib, membenarkan bahwa robohnya bangunan karena penopang tidak kuat menahan material cor. Kini, Kepolisian Polda Jatim tengah menyelidiki kasus ini. Semoga semua korban selamat bisa segera ditemukan.