Jadi Sorotan Media Asing, Saat Rakyat Demo Anggota DPR Malah Kedapatan Plesir ke Australia

Genvoice.id | 02 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Negara kita sedang dilanda gelombang demo besar-besaran yang terjadi di mana-mana. Sayangnya, aksi yang tadinya damai ini berubah menjadi ricuh, sampai ada bentrokan antara warga dan aparat. Gara-gara ini, terdapat korban jiwa dan kekhawatiran meluas di seluruh negeri.

Demo yang pecah di 11 kota besar ini juga menarik perhatian media internasional, lho. Mulai dari Al Jazeera, BBC, The New York Times, sampai SCMP, semua menyoroti masalah yang memicu demo ini.

Beberapa media asing fokus pada masalah inflasi, tunjangan anggota DPR yang besar, dan ketimpangan sosial. Yang paling disorot, insiden meninggalnya driver ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan yang terlindas kendaraan lapisi baja polisi di Jakarta.

Media Asing Soroti Kondisi di Indonesia

Beberapa media asing punya sudut pandang yang berbeda-beda saat memberitakan demo ini:

  • Al Jazeera bilang demo ini dipicu kombinasi inflasi tinggi, tunjangan DPR yang membuat emosi, dan kekerasan polisi. Mereka menekankan bahwa kematian Affan Kurniawan adalah pemicu utama.
  • BBC dan The Guardian juga senada, mereka menyoroti kematian Affan Kurniawan sebagai titik balik yang membuat aksi solidaritas meluas di berbagai daerah.
  • The New York Times mencatat bahwa demo menyebar ke berbagai kota setelah bentrokan mematikan.
  • Bloomberg menyoroti bahwa meskipun sudah ada insiden fatal, para tokoh demo justru berencana melanjutkan aksi, menunjukkan ketidakpuasan yang belum mereda.
  • SCMP bilang, demo ini adalah ujian serius pertama untuk pemerintahan Prabowo Subianto.
  • Times of India melaporkan insiden tragis di Makassar, di mana tiga orang tewas setelah demonstran membakar gedung dewan kota.

Sementara media asing sibuk menyoroti masalah struktural dan HAM, pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto lebih fokus menjaga stabilitas dan mengajak semua pihak untuk berdialog.

Di balik gejolak yang meluas di Indonesia, ada banyak faktor yang menjadi pemicu, terutama:

  • Kematian Driver Ojol: Kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan lapis baja polisi saat bentrokan, menjadi pemicu utama yang memicu kemarahan dan solidaritas massa. Insiden ini menyulut demonstrasi yang awalnya damai menjadi kerusuhan dan meluas ke 11 kota besar.
  • Masalah Ekonomi: Rakyat merasa terbebani oleh inflasi tinggi dan ketimpangan sosial yang semakin terasa. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan sulitnya mencari pekerjaan yang layak menambah frustrasi publik terhadap kondisi ekonomi.
  • Kebijakan Pemerintah yang Kontroversial: Keputusan untuk menaikkan tunjangan anggota parlemen di tengah kesulitan ekonomi rakyat menimbulkan kemarahan. Di mata publik, hal ini mencerminkan sikap tidak empati dari para pejabat.
  • Perjalanan Dinas Anggota DPR: Di tengah demo besar-besaran, kabar kunjungan kerja anggota DPR ke Australia yang diduga disertai agenda rekreatif menjadi sorotan. Momen ini memperkuat anggapan bahwa wakil rakyat tidak peduli dengan penderitaan rakyat.
  • Tindakan Aparat yang Represif: Media internasional seperti Al Jazeera, BBC, dan The Guardian menyoroti kekerasan polisi dan tindakan represif aparat sebagai penyebab meluasnya gejolak. Kekerasan yang terjadi memicu tuntutan untuk reformasi kepolisian dan keadilan bagi korban.

Ricuh di 11 Kota dan Reaksi Publik

Demo di 11 kota besar pada 29 Agustus 2025 ini berujung ricuh. Di Jakarta, massa ojol dan warga mengepung markas Brimob dan Gedung DPR RI. Mereka melempar batu, bom molotov, dan membakar ban.

Aparat membalas dengan gas air mata. Di kota-kota lain seperti Bandung, Jambi, Surabaya, Solo, dan Semarang, juga terjadi kericuhan serupa dengan pembakaran pos polisi dan mobil.

Di tengah situasi ini, publik dibuat kaget dengan kelakuan wakil rakyat. Saat rakyat turun ke jalan, anggota Komisi XI DPR RI justru asyik kunjungan kerja ke Australia. Jadwal kunjungan mereka bocor di media sosial, dan terlihat ada agenda rekreatif seperti mini maraton, makan siang di kafe, dan wisata di Blue Mountain.

Hal ini langsung jadi sorotan tajam dan memancing kemarahan publik. Seolah-olah mereka tidak peduli dengan kondisi negara yang lagi nggak baik-baik aja. Bagaimana pendapatmu Gen tentang kondisi Indonesia kini?