Iran dan AS Terus Bertukar Pesan Demi Tercapainya Kesepakatan
WASHINGTON, GENVOICE.ID - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Minggu (31/5) mengatakan Iran dan Amerika Serikat (AS) terus bertukar pesan terkait kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan.
"Pembahasan dan pertukaran pesan masih terus berlangsung. Sampai hasil yang jelas tercapai, tidak mungkin membuat penilaian apa pun. Semua yang sedang dikatakan saat ini hanyalah spekulasi dan tidak seharusnya dianggap serius," kata Araghchi melalui Telegram.
Pada Jumat pagi di Washington, Presiden AS, Donald Trump menggelar pengarahan intelijen dan menyatakan bahwa ia akan mengambil keputusan final terkait isu Iran. Namun, media-media AS kemudian melaporkan bahwa sebenarnya belum ada kesepakatan akhir yang tercapai
Kawal Kapal Dagang
Amerika Serikat (AS) telah mengawal sekitar 70 kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz dalam tiga pekan terakhir, The New York Times (NYT) melaporkan, mengutip pejabat Komando Pusat AS (CENTCOM).
Sebelumnya, CENTCOM membantah laporan mengenai dimulainya kembali pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Menurut sumber yang dikutip NYT, tidak diungkapkan kapal mana yang melintasi selat tersebut maupun rute yang ditempuh. Seorang pejabat hanya mengonfirmasi bahwa sedikitnya satu kapal melewati wilayah dekat pantai Iran.
Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan terus memantau lalu lintas kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah upaya meredakan ketegangan antara AS dan Iran.
Pada 29 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dicabut.
Namun, penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa militer AS tetap melanjutkan blokade meski ada pengumuman tersebut.
Pekan ini, pejabat AS dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Iran juga berkomitmen membersihkan seluruh ranjau di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Disepakati pula bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz tidak akan dikenai pungutan apa pun.
Perketat Persyaratan
Sementara itu, The New York Times, Minggu, melaporkan bahwa Trump mengajukan persyaratan yang lebih ketat untuk kemungkinan kesepakatan guna mengakhiri konflik dengan Iran serta menyampaikan proposal baru kepada Teheran.
Konflik di Timur Tengah memuncak setelah AS dan Israel melancarkan serangan bersama ke sejumlah wilayah Iran pada 28 Februari, yang mengakibatkan kerusakan serta jatuhnya korban sipil.
Washington dan Teheran kemudian sepakat mengumumkan gencatan senjata sementara selama dua pekan pada 7 April.
Namun, upaya diplomasi yang digelar selanjutnya di Islamabad menemui jalan buntu, yang kemudian direspons AS dengan melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump selanjutnya memperpanjang penghentian permusuhan tersebut guna memberikan waktu bagi Iran untuk menyusun proposal perdamaian.Ant/E-9