BMKG Peringatkan Potensi Gempa Megathrust dan Tsunami di Jakarta, Ini Potensi Dampak dan Risikonya

Genvoice.id | 01 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Isi peringatan serta analisis mendalam dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi ancaman gempa bumi skala besar yang berpusat di zona megathrust kembali menyita perhatian publik.

Letak geografis Jakarta yang berada di bagian barat Pulau Jawa membuat wilayah ibu kota tidak lepas dari bayang-bayang dampak gempa dahsyat yang berpotensi memicu gelombang tsunami hingga kerusakan infrastruktur secara masif.

Kondisi Jakarta yang padat pemukiman serta dipenuhi oleh gedung-gedung bertingkat tinggi semakin meningkatkan tingkat kerentanan wilayah ini terhadap guncangan gempa bumi, baik yang bersumber dari dasar laut maupun sesar aktif di daratan.

Berikut adalah rincian fakta dan analisis dari BMKG terkait potensi dampak gempa megathrust di wilayah Jakarta:

1. Potensi Magnitudo dan Penjalaran Tsunami

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa jika terjadi pelepasan energi maksimum di segmen megathrust Selat Sunda, gempa diprediksi dapat mencapai magnitudo 8,9.

Gelombang tsunami yang dihasilkan berpotensi menjalar hingga ke pesisir Jakarta dengan perkiraan ketinggian sekitar 0,5 meter. Walau tidak setinggi di kawasan Banten atau pantai selatan Jawa Barat, pesisir Jakarta tetap perlu mewaspadai luapan air laut tersebut.

2. Tingkat Intensitas Guncangan (MMI)

Wilayah Jakarta diperkirakan dapat merasakan guncangan gempa dengan skala intensitas 6 hingga 7 MMI (Modified Mercalli Intensity). Guncangan pada tingkat ini tergolong kuat dan mampu membuat benda-benda terlempar, dinding bangunan retak, hingga memicu kerusakan pada konstruksi yang tidak standar.

3. Ancaman Sesar Aktif Darat

Selain sumber gempa megathrust di dasar laut, Jakarta juga dipengaruhi oleh aktivitas sesar aktif di daratan, salah satunya adalah Sesar Cimandiri yang membentang dari wilayah Bogor dan Jawa Barat. Pergerakan sesar aktif ini juga berpotensi menimbulkan guncangan berbahaya di wilayah padat penduduk.

4. Risiko Bahaya Sekunder

Mengingat tingginya kerapatan bangunan di Jakarta, dampak guncangan megathrust tidak hanya berisiko merobohkan struktur bangunan, tetapi juga berpotensi memicu bahaya sekunder seperti tanah longsor di area lereng, pergeseran tanah, hingga risiko kebakaran akibat korsleting listrik.

5. Penguatan Sistem Peringatan Dini

Untuk menghadapi potensi bencana ini, BMKG mengoptimalkan Sistem Peringatan Dini Tsunami (Indonesia Tsunami Early Warning System/InaTEWS) yang mampu menyebarkan informasi darurat secara cepat guna memandu proses evakuasi masyarakat di daerah terdampak.

Pemberitaan mengenai ancaman gempa megathrust dan potensi tsunami di Jakarta ini hendaknya dijadikan pijakan untuk meningkatkan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan di semua lini.

Penataan tata ruang yang berbasis risiko bencana, audit ketahanan bangunan gedung tinggi, serta edukasi simulasi evakuasi secara berkala menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak dan potensi korban jiwa di masa yang akan datang.