Heboh! Tradisi Pacu Jalur Bawa Indonesia Kuasai Dunia di World Games 2025

Genvoice.id | 01 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Suasana di Tepian Narosa, Sungai Batang Kuantan, Riau, pada medio Agustus terasa berbeda dari biasanya, ribuan pasang mata menyaksikan Festival Pacu Jalur 2025, sebuah tradisi dayung yang telah menjadi denyut budaya masyarakat Kuantan Singingi selama ratusan tahun. Namun, sorotan kali ini bukan hanya soal tradisi, melainkan hadirnya sosok bocah yang mendunia, Rayyan Arkan Dikha, dengan gerakan khasnya di ujung perahu yang penuh percaya diri. Gerakan yang dikenal dunia dengan istilah aura farming ini telah menjalar cepat, diikuti oleh selebritas dan pemain sepak bola klub-klub Eropa.

Di balik viralitas fenomena itu, pacu jalur bukan hanya sekadar pesta rakyat semata, melainkan ladang subur bagi lahirnya talenta dayung nasional. Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, yang hadir dalam festival tersebut, menegaskan bahwa ajang ini menjadi wadah pencarian bakat untuk cabang olahraga perahu naga atau dragon boat, yang baru-baru ini mencatatkan prestasi gemilang bagi Indonesia di panggung internasional.

Sementara ribuan masyarakat Kuantan Singingi bersorak riang di tepian sungai, di Chengdu, China, suasana tak kalah meriah. Untuk pertama kalinya, perahu naga menjadi cabang resmi di World Games 2025. Indonesia tampil luar biasa dengan meraih tiga medali emas dan dua perak dalam dua hari perlombaan di Danau Xinglong. Bahkan, dalam waktu hanya dua jam, Indonesia mengantongi empat medali, dua emas dan dua perak, yang semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan dayung dunia. International Canoe Federation (ICF) pun mengakui sejarah ini sebagai pencapaian emas perdana Indonesia di cabang dragon boat World Games, mengukuhkan reputasi Indonesia bersanding dengan negara-negara Asia Timur yang sebelumnya mendominasi.

Keterkaitan antara pacu jalur dan dragon boat sangat erat, meskipun berbeda dalam format perlombaan. Keduanya berakar dari budaya kolektif masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai. Pacu jalur dengan perahu kayu panjang dan kehadiran bocah penari di haluan menggambarkan kedekatan masyarakat Riau dengan air dan semangat kebersamaan, sementara perahu naga adalah wajah modern dan internasional dari tradisi tersebut. Oleh sebab itu, bukan kebetulan jika Riau kerap mendominasi cabang dayung dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), karena regenerasi terjadi secara alami sejak anak-anak sudah terbiasa dengan sungai dan semangat kolektif itu.

Fenomena Rayyan Arkan Dikha, bocah 11 tahun yang viral dengan julukan aura farmer, memberi dimensi baru bagi tradisi ini. Gerakannya yang sederhana namun penuh percaya diri tidak hanya menghibur, tetapi menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia. Ketika selebritas dan musisi global seperti BTS, Travis Kelce, hingga pebalap MotoGP Marc Marquez meniru gaya Rayyan dalam perayaan juara mereka, dunia sebenarnya sedang menyorot akar budaya Indonesia. Eksposur ini memberikan keuntungan luar biasa, tak hanya bagi pariwisata Riau, tapi juga legitimasi tradisi sebagai pintu masuk ke olahraga modern. Viralitas pacu jalur melalui seorang bocah dan keberhasilan perahu naga di World Games 2025 dapat menjadi momentum penting dalam pengembangan olahraga air di tanah air.

Prestasi di Chengdu bukan sekadar angka medali, tapi sebuah tanda bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing di dunia. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan dan mengembangkan prestasi ini. Di sinilah peran pacu jalur dan festival tradisional lainnya menjadi sangat penting. Jika setiap festival dayung di berbagai daerah seperti Riau, Kalimantan, dan Sulawesi dapat dijadikan ekosistem pembinaan yang terstruktur, dengan dukungan teknologi latihan modern dan jalur pemanduan bakat menuju tim nasional, maka Indonesia bisa melahirkan generasi atlet dayung yang tangguh dan konsisten di level dunia.

Pola ini mirip dengan cabang olahraga lain yang berakar dari budaya Nusantara, seperti silat, yang kini menjadi cabang internasional dan sedang diupayakan masuk ke Olimpiade Los Angeles 2028. Hal serupa kini terjadi pada dayung. Bedanya, perahu naga sudah mapan sebagai cabang global, tinggal bagaimana Indonesia menjaga agar tradisi pacu jalur tetap menjadi fondasi identitas olahraga ini.

Yang penting bukan hanya teknik, melainkan juga narasi. Dunia kini mengenal istilah aura farming sebagai bagian dari pacu jalur. Bila narasi ini dikaitkan dengan prestasi perahu naga secara konsisten, maka Indonesia punya keunggulan ganda: prestasi olahraga sekaligus kekayaan budaya yang kuat.

Seperti gerakan Rayyan yang penuh aura, keberhasilan perahu naga di World Games 2025 memberi sinyal optimisme besar. Namun aura itu harus terus dirawat. Pemerintah, federasi, dan masyarakat lokal harus memastikan pembinaan berkelanjutan. Tidak cukup berhenti pada euforia viral atau pesta penyambutan juara, melainkan harus ada desain kebijakan jangka panjang, seperti integrasi festival tradisional dalam kalender pencarian bakat, pemberian beasiswa bagi atlet muda daerah, dan peningkatan fasilitas latihan. Eksposur media dan budaya pop yang sudah ada juga harus diarahkan untuk memperkuat citra dayung Indonesia di mata dunia.

Jika di tepian Sungai Batang Kuantan seorang bocah menari di ujung perahu, dan di Danau Xinglong sekelompok atlet Indonesia mendayung mengibarkan Merah Putih, dua peristiwa berbeda ini saling terkait erat. Pacu jalur adalah akar, sementara perahu naga di World Games adalah ranting yang menjalar ke dunia internasional. Kini, tanggung jawab bersama adalah memastikan pohon besar itu terus tumbuh, berakar kuat pada tradisi dan berbuah manis dalam prestasi.