Impor Lada Indonesia Meledak Jadi 1 Juta Persen, Bagaimana dengan Nasib Petani Lokal?

Genvoice.id | 01 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dulu, Indonesia dikenal sebagai raja rempah dunia. Lada jadi salah satu bintang utama sejak zaman penjajahan, bahkan sampai jadi rebutan bangsa Eropa. Tapi sekarang, ceritanya berubah drastis.

Di awal tahun 2025, muncul kabar yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala, yang di mana impor lada Indonesia meroket lebih dari 1 juta persen hanya dalam waktu lima bulan!

Data dari Satudata Kemendag memberitahu bahwa volume impor lada putih dari Januari sampai Mei 2025 tembus 6,46 ton, alias naik 645.500% dibandingkan periode sebelumnya. Nilainya juga gak main-main, dari nyaris nol jadi US$ 0,05041 juta, atau naik lebih dari 1,2 juta persen!

Pertanyaannya, kok bisa? Bukannya kita produsen utama lada dunia?

Nah, ini dia yang jadi masalah. Kalau negara penghasil justru sibuk impor, berarti ada yang gak beres di sektor hulunya. Petani lada kita justru makin terpinggirkan.

Produksi lada lokal anjlok selama lima tahun terakhir, dari 2019 ke 2023 turun sampai 13 ribu ton. Penyebabnya beragam, mulai dari cuaca yang tidak menentu, serangan hama, lahan berubah fungsi, dan harga jual yang semakin nyungsep.

Para pengamat mengatakan, fenomena impor ini bisa jadi karena dua hal: pertama, produksi dalam negeri nggak cukup untuk memenuhi permintaan. Kedua, bisa jadi ada praktik re-import alias lada impor itu diolah lagi sebelum diekspor ulang.

Apa pun alasannya, lonjakan ini jadi alarm keras untuk pemerintah. Kebijakan perdagangan harus dikaji ulang, terutama soal insentif untuk petani lokal, akses teknologi, dan proteksi dari harga global yang fluktuatif. Jangan sampai lada yang jadi simbol kejayaan rempah Indonesia malah jadi "barang asing" di negeri sendiri.

Lonjakan impor lada di tengah merosotnya produksi dalam negeri harus menjadi perhatian serius pemerintah. Indonesia sebagai negara penghasil lada utama tidak seharusnya mengalami ketergantungan pada pasokan dari luar negeri.

Kini saatnya merevisi kebijakan perdagangan dan memperkuat dukungan untuk petani lada lokal, mulai dari subsidi, akses teknologi, hingga perlindungan harga, agar rempah khas Indonesia ini kembali berjaya di negeri sendiri dan dunia. Setuju gak Gen?