Ditekan Trump, The Fed Tetap Mempertahankan Suku Bunga di Angka 4,5 Persen
JAKARTA, GENVOICE.ID - Keputusan The Federal Reserve (The Fed) minggu ini bikin heboh dunia finansial. Di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang ngotot minta suku bunga untuk diturunkan, The Fed justru cuek dan memilih untuk tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%-4,5%. Tapi tenang, bukan itu aja yang bikin panas, tapi ada drama lainnya Gen!
Dua tokoh penting The Fed, Christopher Waller dan Michelle Bowman, terang-terangan menunjukkan adanya perbedaan pendapat dan memilih untuk menurunkan suku bunga meski akhirnya kalah suara.
Ini jadi perbedaan suara terbanyak dalam jajaran Dewan Gubernur sejak tahun 1993 lho! Hal ini nggak heran sih Gen, karena biasanya yang 'bersikukuh' itu pejabat Fed regional, bukan yang berada di kantor pusat Washington.
Uniknya, Waller dan Bowman ini sebelumnya sudah memberikan kode di pidato publik mereka. Waller sempat mengatakan kalau ekonomi sedang lesu dan pasar tenaga kerja berisiko stagnan. Sementara Bowman merasa sudah saatnya melonggarkan kebijakan, apalagi tarif impor ala Trump tidak terlalu berefek ke inflasi, jadi kenapa nggak menurunkan bunga sekarang?
Tapi tentu aja, gak semua setuju. Sebagian besar petinggi The Fed masih pakai pendekatan "wait and see". Mereka khawatir kebijakan Trump justru bisa bikin harga-harga naik dalam jangka panjang. Jadi lebih baik hati-hati sebelum buru-buru memberikan diskon suku bunga.
Di konferensi pers setelah rapat, Ketua The Fed Jerome Powell terlihat santai. Dia bilang semua masukan itu penting dan sudah dibahas dengan serius. Tapi soal keputusan bulan September nanti? Masih rahasia, Powell masih menunggu data dan belum memberikan kepastian untuk menurunkan atau tidak.
Menariknya, Waller digadang-gadang bakal jadi kandidat kuat sebagai pengganti Powell setelah masa jabatannya habis Mei nanti. Hmm, makin panas ya politik ekonomi di AS! Apakah The Fed bakal merubah arah atau tetap kekeh pada jalurnya? Kita tunggu aja update kelanjutannya!
Drama suku bunga The Fed kali ini membuktikan kalau tekanan politik belum tentu bisa mengubah arah kebijakan ekonomi. Dengan perbedaan pendapat di internal yang makin tajam, arah suku bunga ke depan masih penuh tanda tanya. Akankah suara minoritas jadi kenyataan di pertemuan berikutnya?