Harga Gadget Mendadak Naik, AI Disebut Jadi Biang Kerok Krisis RAM Global

Genvoice.id | 01 Jul 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Harga berbagai perangkat elektronik kini tak lagi mengikuti pola lama yang biasanya semakin murah seiring bertambahnya usia produk. Sebaliknya, sejumlah gadget dan konsol game justru mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir meski sudah lama beredar di pasaran.

Fenomena tersebut dialami oleh sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Apple, Microsoft, Nintendo, hingga Valve. Mereka kompak menaikkan harga produk dengan alasan meningkatnya biaya komponen, terutama chip memori atau RAM yang kini semakin mahal.

Di balik lonjakan harga tersebut, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) disebut menjadi salah satu penyebab terbesar. Tingginya kebutuhan chip untuk membangun pusat data AI membuat pasokan komponen semakin terbatas, sementara permintaan terus meningkat.

Microsoft hingga Nintendo Ikut Naikkan Harga

Microsoft menjadi salah satu perusahaan yang melakukan penyesuaian harga untuk konsol Xbox Series S dan Xbox Series X. Harga kedua perangkat itu dilaporkan naik sedikitnya 100 dolar AS atau sekitar Rp1,7 juta.

Kenaikan tersebut menjadi yang ketiga dalam setahun. Dibandingkan tahun sebelumnya, harga Xbox kini disebut 30 hingga 40 persen lebih tinggi.

Apple juga melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produk, termasuk lini MacBook dan iPad. Kenaikan harga mendekati 20 persen itu bahkan sempat memengaruhi sentimen pasar terhadap perusahaan.

Sementara itu, Valve menaikkan harga Steam Deck hingga sekitar 40 persen. Perusahaan tersebut juga membanderol PC gaming Steam Machine dengan harga lebih tinggi dari perkiraan awal karena meningkatnya biaya produksi.

Nintendo pun mengikuti langkah serupa. Perusahaan asal Jepang itu dijadwalkan mulai menerapkan harga baru untuk Nintendo Switch 2 secara global mulai September 2026.

Fenomena "Ramageddon" Bikin Harga RAM Melonjak

Kenaikan harga perangkat elektronik tak lepas dari melonjaknya harga RAM yang kini dikenal dengan istilah "Ramageddon". Krisis ini dipicu oleh besarnya kebutuhan chip memori untuk mendukung operasional pusat data AI di seluruh dunia.

Server AI membutuhkan DRAM dan NAND Flash dalam jumlah sangat besar agar mampu menjalankan berbagai model kecerdasan buatan. Akibatnya, produsen chip lebih memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan AI dibanding perangkat elektronik konsumen.

Data industri menunjukkan harga modul RAM DDR5 berkapasitas 32GB meningkat sangat tajam dalam beberapa kuartal terakhir. Jika pada kuartal ketiga 2025 harganya masih berada di kisaran 94 dolar AS, pada awal 2026 nilainya melonjak menjadi sekitar 282 dolar AS atau naik lebih dari 120 persen.

Persaingan AI Berebut Pasokan Chip

Para analis menilai perlombaan membangun infrastruktur AI membuat perusahaan teknologi besar berlomba membeli chip dalam jumlah besar. Situasi tersebut membuat produsen semikonduktor memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat.

Akibatnya, pasokan chip untuk laptop, tablet, hingga konsol game menjadi semakin terbatas. Perangkat yang digunakan masyarakat umum kini harus bersaing mendapatkan komponen yang sama dengan pusat data AI berskala raksasa.

Geopolitik Turut Memperburuk Situasi

Selain ledakan permintaan akibat AI, kondisi ekonomi global juga ikut memperburuk rantai pasok industri teknologi. Inflasi, kenaikan biaya produksi, hingga konflik geopolitik membuat ongkos manufaktur dan distribusi chip terus meningkat.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk gangguan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, turut memicu kenaikan biaya logistik. Beban tersebut pada akhirnya ikut memengaruhi harga komponen elektronik dan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk.

Dengan kondisi tersebut, harga gadget dan konsol game diperkirakan masih akan sulit kembali turun dalam waktu dekat. Selama permintaan chip AI tetap tinggi dan pasokan belum mampu mengimbanginya, konsumen kemungkinan masih harus menghadapi tren kenaikan harga perangkat elektronik.