Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah, Berapa Banyak Bahasa Asing yang Dikuasai Prabowo?

Genvoice.id | 01 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Presiden Prabowo Subianto kembali menggebrak dunia pendidikan tanah air lewat kebijakan barunya yang ambisius. Dalam lawatan diplomatik ke Paris, Prancis, pada 28 Mei 2026, Presiden Prabowo mengumumkan instruksi untuk memasukkan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran yang diajarkan di seluruh tingkatan sekolah di Indonesia.

Langkah berani ini seketika memicu diskusi hangat di ruang publik. Banyak masyarakat yang kemudian penasaran dengan latar belakang kemampuan bahasa asing sang Presiden, hingga alasan strategis di balik pemilihan bahasa Prancis sebagai kurikulum nasional yang baru.

Menguak Kemampuan Bahasa Asing Presiden Prabowo

Kefasihan Presiden Prabowo dalam berkomunikasi di panggung diplomasi internasional tanpa alat bantu penerjemah bukanlah rahasia lagi. Tokoh militer sekaligus Presiden RI ke-8 ini diketahui menguasai setidaknya enam hingga tujuh bahasa dengan berbagai tingkat kemahiran.

Berikut adalah daftar bahasa yang dikuasai oleh Presiden Prabowo:

  • Bahasa Ibu dan Daerah: Bahasa Indonesia serta dialek Banyumasan (Bahasa Jawa).

  • Bahasa Asing Utama (Fasih): Bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.

  • Bahasa Asing Tambahan (Terbatas): Bahasa Arab, yang ia pelajari secara khusus selama menjalankan tugas di Yordania.

Kemampuan linguistik yang luar biasa ini dibentuk oleh latar belakang keluarganya. Sebagai putra dari pakar ekonomi legendaris, Sumitro Djojohadikusumo, Prabowo menghabiskan masa remajanya berpindah-pindah di benua Eropa serta sempat mengecap pelatihan militer di Amerika Serikat.

Alasan Strategis Pemilihan Bahasa Prancis

Keputusan Presiden Prabowo untuk menjadikan bahasa Prancis sebagai program wajib di sekolah didasari oleh posisi penting bahasa tersebut dalam geopolitik global. Prancis merupakan bahasa resmi di 29 negara dan menjadi bahasa kerja utama di berbagai lembaga dunia, mulai dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, hingga UNESCO.

Bagi Indonesia, penguasaan bahasa Prancis dipandang sebagai kunci untuk mempererat kerja sama bilateral dengan negara-negara Eropa, khususnya dalam sektor pertahanan, transfer teknologi, investasi, dan pendidikan tinggi.

Kebijakan ini juga mempertegas visi "Multilingualisme" Presiden Prabowo untuk menyiapkan kompetensi generasi muda menghadapi persaingan global.

Sebelumnya, ia juga mendorong bahasa Portugis sebagai salah satu prioritas pascapertemuan dengan Presiden Brasil, melengkapi daftar bahasa asing prioritas nasional lainnya seperti Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan Rusia.

Tantangan dan Peluang Implementasi di Lapangan

Penerapan kurikulum bahasa asing baru ini tentu membawa dua sisi mata uang yang harus diantisipasi secara matang oleh pemerintah:

Sisi Tantangan:

  • Keterbatasan Tenaga Pendidik: Menemukan guru bahasa Prancis yang kompeten dan tersertifikasi secara merata ke seluruh pelosok daerah di Indonesia masih menjadi kendala utama.

  • Kepadatan Kurikulum: Penambahan materi bahasa asing baru dikhawatirkan dapat menambah beban akademis siswa serta guru jika tidak diimbangi dengan restrukturisasi mata pelajaran lain.

Sisi Peluang:

  • Akses Beasiswa Internasional: Siswa yang fasih berbahasa Prancis memiliki peluang emas untuk melanjutkan studi ke universitas top di Prancis, Swiss, Belgia, hingga Kanada.

  • Peningkatan Daya Saing Kerja: Tenaga kerja asal Indonesia akan memiliki nilai tawar yang jauh lebih tinggi di pasar kerja internasional.

  • Diplomasi Budaya (Soft Power): Pendidikan bahasa ini juga memperkaya wawasan budaya siswa tentang seni, diplomasi, dan hak asasi manusia, yang sejalan dengan keterbukaan ideologi Pancasila terhadap peradaban dunia.

Pelajaran Penting dari Kebijakan Baru Ini

Langkah visioner Presiden Prabowo memperlihatkan bagaimana kekuatan personal seorang pemimpin dapat bertransmisi menjadi kebijakan nasional yang berdampak luas. Di era modern di mana kekuatan pengaruh (soft power) menjadi senjata utama diplomasi, penguasaan bahasa asing adalah modal krusial.

Namun, keberhasilan program wajib bahasa Prancis ini akan sangat ditentukan oleh eksekusi konkret Kementerian Pendidikan.

Pemerintah dituntut untuk segera menggelar pelatihan guru secara masif, menyusun materi ajar yang kontekstual, serta memanfaatkan teknologi pembelajaran daring agar kebijakan ini tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.

Bagaimana menurut Gen tentang rencana untuk memasukkan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran yang diajarkan di seluruh tingkatan sekolah di Indonesia, tulis komentarmu di bawah!