Selalu Apes! Ini Deretan Kelam Arsenal di Liga Champions

Genvoice.id | 01 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Arsenal punya banyak cerita panjang di Liga Champions, tetapi tidak semuanya berakhir manis.

Dalam perjalanan mereka di kompetisi ini, ada sejumlah pertandingan yang terus dikenang karena cara kekalahan yang sulit dilupakan.

Salah satu yang paling sering dibicarakan terjadi pada 2011 saat menghadapi Barcelona di babak 16 besar. Arsenal datang dengan modal kemenangan di leg pertama, tetapi situasi berubah ketika Robin van Persie mendapat kartu merah karena dianggap membuang waktu. Bermain dengan 10 orang membuat Arsenal kehilangan kontrol hingga akhirnya kalah dan tersingkir.

Cerita pahit juga datang dari musim 2003/2004 saat menghadapi Chelsea di perempat final. Arsenal sempat unggul dan berada di posisi nyaman, tetapi gol Wayne Bridge di menit akhir membalikkan keadaan dan memastikan langkah mereka terhenti.

Pada 2009, Arsenal kembali mengalami malam sulit saat menjamu Manchester United di semifinal. Harapan untuk membalikkan keadaan langsung runtuh setelah kebobolan cepat. Pertandingan berjalan berat sejak awal dan berakhir dengan kekalahan yang membuat mereka gagal melangkah ke final.

Duel melawan Barcelona pada 2010 juga meninggalkan kesan kuat. Lionel Messi tampil dominan dan mencetak empat gol di Camp Nou. Arsenal yang sempat unggul tidak mampu menjaga momentum hingga akhirnya tersingkir dengan skor telak.

Laga melawan Monaco pada 2015 juga masuk dalam daftar. Arsenal mengalami kekalahan di kandang sendiri yang membuat posisi mereka sulit. Meski menang di leg kedua, agregat tidak cukup untuk membawa mereka lolos.

Kisah lain datang dari pertemuan dengan Bayern Munchen pada 2024. Arsenal datang dengan kepercayaan diri, tetapi satu gol dari Joshua Kimmich sudah cukup untuk menghentikan langkah mereka.

Lebih jauh ke belakang, Arsenal juga pernah tersingkir oleh Valencia pada 2001. Mereka membawa keunggulan agregat, tetapi gagal memanfaatkan peluang hingga akhirnya kalah lewat aturan gol tandang.

Yang paling membekas terjadi pada final 2006. Arsenal sempat unggul meski bermain dengan 10 orang setelah Jens Lehmann mendapat kartu merah di awal laga. Tekanan dari Barcelona berujung dua gol di akhir pertandingan yang mengubah hasil dan membuat trofi lepas.