PSG Juara Liga Champions, Arsenal Disindir Hanya Bertahan Tanpa Niat Bermain
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pertandingan final Liga Champions antara Arsenal dan Paris Saint-Germain menyisakan cerita panas, bukan hanya soal hasil, tetapi juga cara bermain kedua tim yang jadi sorotan.
PSG akhirnya keluar sebagai juara setelah menang lewat adu penalti dengan skor 4-3, usai kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu. Hasil ini sekaligus memastikan PSG mempertahankan gelar mereka dan masuk jajaran klub elite Eropa yang mampu juara secara beruntun.
Namun, yang paling menarik perhatian justru komentar gelandang PSG, Joao Neves. Ia secara terbuka menyindir gaya bermain Arsenal yang dinilai terlalu defensif. Menurutnya, di laga sebesar final Liga Champions, hanya PSG yang benar-benar menunjukkan niat untuk bermain sepak bola.
Sejak awal pertandingan, Arsenal sebenarnya sempat unggul cepat lewat gol Kai Havertz. Tetapi setelah itu, pendekatan permainan mereka berubah drastis. Tim asuhan Mikel Arteta lebih banyak bertahan dan menunggu kesempatan serangan balik, alih-alih mengontrol permainan.
Statistik pertandingan memperkuat gambaran tersebut. Arsenal hanya mencatat sekitar 25 persen penguasaan bola dengan total tujuh percobaan, sementara PSG mendominasi dengan 75 persen penguasaan dan 21 percobaan ke gawang.
Strategi bertahan Arsenal memang bukan tanpa alasan. Declan Rice mengakui bahwa timnya sengaja bermain lebih hati-hati untuk menghindari permainan terbuka yang justru menguntungkan PSG. Mereka memilih menunggu kesalahan lawan dan mencoba memanfaatkannya melalui serangan balik.
Pendekatan itu sempat berjalan cukup baik. Arsenal mampu menahan tekanan PSG hingga pertandingan berjalan lama dan bahkan memaksa laga ditentukan lewat adu penalti. Namun pada akhirnya, keberuntungan dan ketenangan lebih berpihak kepada tim asal Prancis tersebut.
Bagi PSG, kemenangan ini bukan hanya soal trofi, tetapi juga pembuktian bahwa mereka mampu mendominasi permainan di level tertinggi. Sementara bagi Arsenal, kekalahan ini menyisakan evaluasi besar, terutama soal keberanian bermain di laga penting.