Krisis Air Global Kian Parah, Laporan PBB Soroti Ancaman Kekeringan Dunia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Krisis air global disebut semakin mengkhawatirkan setelah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti peningkatan kekeringan di berbagai belahan dunia. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu dampak luas, mulai dari masalah lingkungan hingga ketidakstabilan sosial.
Dalam laporan tersebut, PBB mengungkap bahwa pasokan air bersih terus menipis seiring meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam. Sekitar tiga dari empat orang di dunia kini tinggal di wilayah yang menghadapi persoalan air, baik berupa kelangkaan, pencemaran, maupun kekeringan ekstrem. Diperkirakan sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air setidaknya selama satu bulan setiap tahunnya.
Temuan ini diperkuat analisis dari peneliti Kaveh Madani dari UN University Institute for Water, Environment and Health. Ia menggambarkan kondisi krisis air layaknya sistem keuangan yang mengalami defisit. Menurutnya, "rekening" air permukaan terus terkuras, sementara cadangan air jangka panjang seperti air tanah dan gletser juga semakin menipis.
Laporan tersebut menyebut ekspansi pertanian dan urbanisasi ke wilayah kering sebagai salah satu faktor utama krisis air. Selain itu, perubahan iklim turut memperparah situasi. Pemanasan global membuat wilayah kering menjadi semakin tandus, meningkatkan penguapan, sekaligus menurunkan curah hujan di banyak kawasan.
Dampak kekurangan air tidak hanya berhenti pada isu lingkungan. Madani menilai krisis ini berpotensi memicu gejolak sosial, termasuk migrasi massal, konflik, hingga instabilitas politik. Ia mencontohkan protes yang pernah terjadi di Iran akibat kegagalan sistem distribusi air, yang berimbas pada kehidupan ekonomi dan stabilitas negara.
Menariknya, masalah air tidak hanya dialami negara dengan pasokan terbatas. Beberapa wilayah yang sebelumnya dikenal kaya air juga menghadapi tekanan baru, misalnya akibat konsumsi air besar oleh pusat data, pencemaran industri, hingga penggunaan pupuk dalam sektor pertanian.
Di kawasan Uni Eropa, para peneliti menyoroti hilangnya lahan basah secara signifikan. Banyak area rawa dialihfungsikan menjadi lahan pertanian, yang mempercepat berkurangnya cadangan air alami dan memperburuk ketahanan lingkungan.
Madani menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam pengelolaan air. Ia mendorong negara-negara untuk mulai beradaptasi dengan ketersediaan air yang semakin terbatas, termasuk melalui manajemen yang lebih efisien dan berbasis data.
Namun, ia juga menyoroti masih minimnya negara yang memiliki pencatatan jelas mengenai cadangan dan penggunaan air. Tanpa data yang akurat, berbagai solusi teknologi seperti penyemaian awan dinilai tidak akan efektif dalam mengatasi akar persoalan.
Laporan PBB ini menjadi pengingat bahwa krisis air bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang tengah berlangsung. Tanpa langkah konkret, kekeringan berpotensi menjadi salah satu tantangan global terbesar dalam beberapa dekade mendatang.