Negara yang Tidak Merayakan Tahun Baru 1 Januari, Ternyata Ada Alasan Unik di Baliknya!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Saat sebagian besar penduduk bumi lagi sibuk nyalain kembang api, tiup terompet, dan posting resolusi baru di media sosial tepat pada tanggal 1 Januari, ternyata ada beberapa tempat di dunia yang suasananya justru biasa saja, Gen. Kita mungkin menganggap kalau awal tahun itu serentak di mana-mana, tapi kenyataannya setiap negara punya budaya, kalender, dan aturan hukum yang berbeda-beda. Bagi mereka, tanggal 31 Desember malam hanyalah hari biasa tanpa ada pesta pora atau keriuhan yang berarti. Alasan di balik absennya perayaan ini pun macem-macem, mulai dari penggunaan sistem penanggalan kuno yang masih dipertahankan, tradisi leluhur yang sudah ada ribuan tahun, sampai adanya kebijakan pemerintah yang membatasi perayaan tersebut demi alasan kepercayaan tertentu.
Banyak warga di negara-negara ini yang justru lebih menantikan momen lain yang dianggap lebih sakral atau lebih merepresentasikan budaya asli mereka daripada sekadar mengikuti kalender Gregorian yang umum dipakai secara internasional. Meskipun teknologi sudah bikin dunia makin terkoneksi, identitas lokal tetap jadi yang utama buat mereka. Penasaran nggak sih negara mana saja yang "cuek" sama momen 1 Januari dan kapan sebenarnya mereka bener-bener ngerayain pergantian tahun versinya sendiri? Yuk, kita bedah daftar negaranya satu per satu biar wawasan kamu makin luas, Gen!
China dan Vietnam yang Lebih Menunggu Imlek
Meskipun anak muda di distrik perbelanjaan China mungkin ada yang ikut nonton kembang api, secara umum masyarakat di sana nggak nganggep 1 Januari sebagai tahun baru yang utama. Mereka lebih menantikan Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek. Di momen inilah ratusan juta orang bakal pulang kampung, pasang dekorasi merah, dan nyalain petasan buat ngusir roh jahat selama 15 hari penuh.
Nggak jauh beda, warga Vietnam juga lebih fokus ke Hari Raya Tết yang waktunya barengan sama Imlek. Persiapannya gila-gilaan karena bisa makan waktu berminggu-minggu, mulai dari beli baju baru sampai bersih-bersih rumah total buat buang sial. Rumah mereka bakal penuh sama pohon kumquat dan bunga persik yang cantik banget, Gen.
Kalender Unik Milik Ethiopia dan Tradisi Tua Iran
Ethiopia bener-bener punya vibes yang beda karena mereka pakai kalender sendiri yang selisihnya 7 sampai 8 tahun dari kita. Tahun baru mereka disebut Enkutatash yang jatuh pada 11 atau 12 September. Momen ini jadi penanda berakhirnya musim hujan. Anak-anak di sana bakal keliling rumah buat nyanyi dan kasih lukisan demi dapet hadiah kecil, sementara tanggal 31 Desember lewat gitu saja tanpa perayaan apa pun.
Terus ada Iran dengan perayaan Nowruz yang sudah ada sejak 3.000 tahun lalu. Perayaan ini jatuhnya pas banget sama awal musim semi. Tradisi paling uniknya adalah meja Haft-sin, yaitu meja yang dihiasi tujuh benda yang namanya diawali huruf "S" dalam bahasa Persia. Pesta ini bakal berlangsung selama 13 hari dan ditutup dengan piknik seru di luar ruangan.
Aturan Ketat di Arab Saudi dan Brunei Darussalam
Kalau di Arab Saudi, kalender resmi yang dipakai adalah kalender Hijriah, jadi tahun barunya jatuh pada 1 Muharram. Bagi warga yang konservatif, ngerayain tahun baru masehi dianggap kurang pas dan nggak sesuai sama ajaran agama. Suasana di sana cenderung tenang tanpa adanya dekorasi tahun baru yang mencolok.
Sama halnya dengan Brunei Darussalam. Sejak tahun 2014, Sultan Hassanal Bolkiah secara resmi melarang perayaan tahun baru dan Natal di tempat umum. Kebijakan ini diambil buat menjaga nilai-nilai agama di sana. Jadi, nggak ada tuh yang namanya pake baju pesta atau pasang hiasan di ruang publik karena hal itu dinilai bertentangan dengan aturan yang berlaku di negara tersebut, Gen.
Gimana Gen, menurut kamu lebih asyik ngerayain tahun baru bareng seluruh dunia di 1 Januari atau lebih seru kalau punya waktu perayaan unik sendiri kayak negara-negara di atas?